Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Anjing Tanpa Mata

Anjing Tanpa Mata (memang itu namanya. Anjing, karena dia seekor anjing.Tanpa Mata, karena warna matanya yang sehitam bulunya sehingga terlihat tak bermata, serta karena kebetulan ia juga buta) yang sedang terlelap dibuai sepoi angin laut dibawah naungan rimbun pohon besar di halaman sebuah sekolah seketika terbangun siang itu oleh hembusan bau anyir yang sangat menusuk. Bau bangkai, pikirnya. Terbersitlah selera makannya. Ia mengendus kemari dan kesana, mencari asal bau yang merangsang penciumannya itu. Keras sekali bau ini, pikirnya lagi. Sepertinya banyak sekali bangkainya. Dan dimulailah perjalanan Anjing Tanpa Mata, yang hanya mengandalkan tuntunan bau saja.
Aneh, pikirnya. Biasanya baru berapa langkah, akan terdengar manusia-manusia meludahinya, meneriakinya dengan kata-kata yang tidak ia mengerti, atau berlari darinya. Sejauh nalar anjingnya menginterpretasi, semua yang dilakukan manusia-manusia itu dapat berarti dia ditakuti, disegani, atau tidak disukai. Dan ia percaya bahwa ia disegani para manusia, sebagaimana anjing-anjing menyeganinya. Sebagai pengganti dari hilangnya penglihatannya, penciumannya—indera yang paling diandalkan para anjing—sangat berkembang. Dan karena ia tidak pernah melihat apa yang ia hadapi dan terintimidasi oleh ukuran ataupun penampilan luar, tak pernah ia takut menghadapi apapun yang ada di hadapannya, hingga tak ada anjing yang berani melawannya.
Sejenak ia berhenti. Semakin dekat ia dengan sumber bau itu, semakin panas udara, padahal langit gelap tak bermatahari. Dan terdengar di telinganya semakin banyak suara-suara manusia bernada tinggi, yang menyiratkan kepanikan, ketakutan, kesakitan, dan emosi-emosi lain yang ia tidak mengerti. Suara orang berlari juga terdengar, tapi bukan darinya. Sungguh aneh, tapi ia tak peduli. Ia lapar sekali, dan perjalanannya ia lanjutkan lagi.
Setelah beberapa ribu langkah akhirnya tiba jugalah ia di sumber bau yang sedari tadi menggodanya itu. Bangkai entah apa, yang menggunung banyaknya. Sebagian besar separuh terpanggang, mengeluarkan aroma hangus yang bagi Anjing Tanpa Mata sangat sedap. Heran juga ia, kenapa tak ada anjing lain yang menikmati pesta pora ini.
Andai saja ia dapat melihat, yang akan ia lihat adalah pemandangan yang bagi manusia—bahkan mungkin anjing—sangat menakutkan: bangkai manusia yang terpanggang bertebaran dimana-mana. Ini adalah Hiroshima, Agustus 1945, dan Little Boy baru saja dijatuhkan satu jam sebelumnya.
Seharian si Anjing habiskan untuk menggerogoti bangkai-bangkai setengah hangus itu, sampai tiba-tiba tubuhnya terasa gatal—begitu gatal, seperti ribuan kutu menggigitinya—dan berjatuhanlah bulu-bulunya. Kesadarannya menipis, hingga akhirnya ia jatuh menggelepar, dan mati. Tanpa ia sadari sel-selnya rusak terkena radiasi.

3 komentar:

Arna mengatakan...

Hmm. apa mati karena radiasi kyk gitu?

dina_luvsblue mengatakan...

dil, crita2 lo menarik. i'm interested to read your blog on. hihiy. eh, btw. blog gw yang baru (dan sepertinya is the one that i'm gonna be settled in) http://dinaluvsblue.wordpress.com.

gonna keep on reading yours! hehe

rinds★, mengatakan...

wow..
jago.
cerita pendek tapi..

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief