Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Bah

“Hujan adalah waktu bermain bagi para peri pohon, karena manusia tak akan keluar dari rumah mereka, tak mau basah karena rintiknya. Padahal mereka kan, asalnya dari air juga. Saat petir menyambar-nyambar dan aroma tanah menguar, para peri pohon keluar dari persembunyian mereka—rimbun dedaunan dan sela-sela dahan—lalu dolanan semalaman, tubuh mereka berkedap-kedip kerlap-kerlip cantik sekali. Mereka menyanyi dan menari, lalu berputar-putar dengan sayap mereka, yang bahannya rajutan sutra cahaya, pemberian para ngengat lentera yang hidupnya menerangi lantai samudera. Begitu rintik-rintik berhenti, mereka bersembunyi. Begitu selalu sejak dulu, sejak rumah mereka yang suci ditebangi begitu saja, diubah menjadi keranda keadilan dan keranjang sampah kebenaran. Hutan mereka digantikan menjadi lahan kosong kerontang yang diukur dan dinilai-nilai, ditinggalkan tapi lalu disengketakan, sampai penawar tertinggi mengambil alih dan memasang pancang-pancang, lalu seenaknya mendirikan bangunan yang tak hanya ditanam dalam-dalam, menghancurkan ilalang dan rerumputan, tapi juga tingginya tak wajar, begitu sombong, begitu angkuh. Para peri pohon hanya mampu berdoa agar para manusia pada akhirnya menyadari kesalahan mereka, dan bersembunyi dari satu pohon ke pohon lainnya, sebisa mungkin pohon yang belum dipanteki “GURU KE RUMAH, TEL. (021)…” atau “PRT BERPENGALAMAN, TEL. (021)…” atau “BADUT SULAP, TEL. (021)…”, atau pohon yang oleh manusia belum ditimbang-timbang, apakah mau dirobohkan atau mau didiamkan, dan yang paling sempurna, tentunya, jika ada, adalah pohon yang belum sekilaspun dilihat mata manusia. Tapi yang terakhir itu susah sekali dicari. Jadi para peri pohon di Jakarta pada umumnya berpatokan pada yang dua saja. Pintar sekali ya, aku? Tentu saja. Nenekku dulu pernah diajak berunding oleh para peri tentang pengambilalihan Jakarta oleh manusia. Nenekku menceritakan segalanya padaku, termasuk tentang pakta-pakta yang diteken pemimpin kedua belah pihak (yang tentu saja diselewengkan oleh pemimpin manusia). Jadi segala informasi mengenai para peri tersimpan dalam otakku begitu rapi. Aku sendiri bekerja tak kenal cuaca. Aku seorang kurir berbagai obat-obatan yang sifatnya…rekreasional. Bagiku hidup yang indah ini harus dibagi-bagi, meski cuma dalam bentuk ilusi. Mau bagaimana lagi, memang sudah jalanku hidup seperti ini. Kembali ke pekerjaanku, yang sudah kukatakan tak mengenal cuaca itu. Jadi sore itu aku harus mengantar enampuluh gram campuran yang kuberi nama “bubuk peri” ke rumah salah seorang pelanggan. Jalan menuju rumahnya ribet dan tiba-tiba turun hujan. Kalau cuma gerimis saja mungkin tak apa, tapi rintik-rintik itu semakin lama jadi gila-gilaan lebatnya. Terpaksa aku mencari tempat berteduh supaya bawaanku tak basah. Jalanan kompleks itu lama kelamaan menggenang. Kugulung celanaku sampai ke paha. Ah, ada pohon beringin besar di tepi jalan. Kalau hujan begini aku memang suka sekali memperhatikan pepohonan. Mungkin ada peri yang sekelebat bisa kulihat. Kuperhatikan sela-sela dahan, siapa tahu kali ini aku mendapat keberuntungan. Lama sekali, lalu cring! Seberkas cahaya melintas dari satu rimbunan ke rimbunan lainnya. Peri! Ah, tetapi hujan reda begitu saja. Dan pekerjaanku pun kuteruskan. Rupanya rumah si pelanggan ini lebih jauh dari yang kuperkirakan. Kurang lebih setengah jam kemudian aku pulang, dan karena masih agak penasaran kulewati lagi pohon beringin di tepi jalan tempatku berteduh barusan. Genangan air rupanya sudah surut. Di bawah pohon itu ada empat orang berdiri di bawahnya. Yang satu berseragam safari dan berkacamata hitam petantangpetenteng begitu congkaknya. Yang satu berkoko putih bersarung kotak-kotak hijau tua dan bersorban panjang berkacak pingang. Yang dua—kuseragamkan saja—sama-sama berotot dan berkulit gelap karena matahari, berkaos lengan buntung dan memegang gergaji. “Gara-gara pohon ini kompleks kita gagal dapat Adipura! Buah dan daunnya mengotori jalanan, akarnya menyumbat saluran pembuangan!” begitu seru salah satu diantara mereka yang sempat kudengar dari jauh. Yang dua, yang membawa gergaji, terlihat manggut mangut, lalu beringsut menuju pohon itu. Adegan yang terjadi sesudahnya sungguh tak terduga. Ratusan, tidak, ribuan peri yang memancarkan cahaya begitu indahnya keluar dari persembunyian mereka, di balik dedaunan dan sela-sela dahan. Nah, ini yang harus kamu ingat, peri dapat berubah menjadi apapun juga, tapi perubahan mereka itu permanen, untuk selamanya. Dan sore itu para peri, yang biasanya sabar luarbiasa, sepertinya meledak amarahnya. Satu demi satu mereka berubah, mencair, menjadi air. Kau bayangkan, ribuan peri berubah menjadi guyuran air, pada akhirnya adalah bah yang luarbiasa, yang awalnya hanya menenggelamkan yang empat tadi saja, lalu meluas ke seluruh kota dan membantai entah berapa banyak jiwa. Untung saja dengan cepat motorku kupacu, dan selamatlah aku dari situ. Kalau tidak cerita ini mungkin takkan sampai di telingamu. Dan habislah, pada hari itu, seluruh peri di Jakarta, menjadi kemarahan yang dalam dan membuncah, seperti air bah,”
“Para peri sudah tidak ada, tapi kenapa banjir masih sering mampir?”
“Lah, menurutmu?”

1 komentar:

dina_luvsblue mengatakan...

hal yang langsung teringat di pikiran saya saat membaca baris terakhir cerita:
"lah, mnurut LLLOOOOOOO?"

cerita peri yang baik sekali. saya akan mulai mengingat cerita ini ketika melihat atau mendengar berita-berita banjir di mana pun.

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief