Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Bermain Api

“Selamat pagi anak-anak!”
“Selamat pagi bu guru!”
“Hari ini kalian akan belajar dan bermain bersama ibu. Perkenalkan, nama ibu, Ibu Ika. Ayo kita eja sama-sama, I-K-A, Ika!”
“I-K-A, Ika!”
“Tapi jangan lupa pakai ‘ibu’ ya, ‘Ibu Ika’!”
“Ya Bu Ika!”
Pandangan wanita paruh baya berambut keriting kecoklatan itu menyapu seluruh ruangan enam kali empat yang bercat separuh putih separuh hijau muda itu. Temboknya ditempeli hasil karya anak-anak yang belajar disitu: gambar, lukisan, jepretan kamera lubang jarum, kolase, dan montase. Bangku dan meja plastiknya bagus sekali warna-warnanya. Ada hijau muda, ada hijau tua, ada jingga. Di depan kelas digantung sebuah papan tulis besar dan berbagai poster berbahasa Inggris—ada yang berisi abjad, binatang-binatang, buah-buahan, ada juga peta dunia. Meja guru pun diberi warna kuning pastel, biar terlihat secerah meja anak-anak yang diajarnya.
“Nah anak-anak, sekarang kita akan melihat api. Siapa yang tahu apa itu api?”
“Saya bu!”
“Saya juga bu!”
“Bohong bu, Dina sebenarnya tak tahu bu!”
“Tidak ada yang berbohong di kelas ini, Adi. Ayo coba Dina, apa itu api?”
Yang diminta berbicara merona sedikit pipinya, lalu dengan malu berkata,
“Api itu cahaya biru yang menari-nari, bagus sekali. Aku lihat di kompor. Kata Mamaku itu yang namanya api,”
“Bagus sekali, Dina! Nah, apakah disini ada yang belum pernah melihat api?”
Separuh dari anak-anak di ruangan itu menunjuk tangan.
Wanita itu mematikan lampu ruangan. Sejenak anak-anak ketakutan, namun setelah ia mengeluarkan sebuah pemantik gas dan menyalakannya, pekik girang membahana. Cercah kuning kebiruan itu meliuk riang, terang, cemerlang.
“Ini namanya api. Indah sekali, bukan?”
Kekaguman, waah dan woow ramai sekali di ruangan itu.
“Coba, kita nyalakan api bersama,”
Si wanita mengeluarkan lima belas pemantik gas dari dalam kopernya—sama jumlahnya dengan anak-anak di kelas itu—dan membagikannya.
“Tinggal tekan saja tombol diatas, memang sedikit keras,”
Anak-anak itu terpukau. Si wanita lalu mengangkat kopernya dan menaruhnya diatas meja.
“Nah, kalau kalian ingin lihat yang lebih indah lagi, berikan ini. Ini…”
“Tapi bu guru, kata mamaku, api itu bahaya!”
Wanita itu menyalakan lampu ruangan lagi. Terdengar gumam kesal dan kecewa diantara anak-anak itu karena cerita seru guru mereka dipotong oleh salah satu teman mereka. Si wanita mendekati gadis yang menyelanya sambil tersenyum, dan berkata pelan.
“Orang-orang dewasa memang begitu. Mereka tak mau anak-anak tahu tentang hal-hal indah dan menyenangkan. Mereka mau hanya mereka yang bisa menikmati keindahan api, karena mereka iri, anak-anak punya begitu banyak impian dan kesenangan. Sementara hidup orang-orang dewasa siat membosankan, mengecewakan, dan penuh kebohongan. Begitu iri mereka pada kalian, sampai api pun mereka rahasiakan”
Meski si gadis kecil yang menyela si wanita tidak bisa mencerna apa yang diceritakan si wanita, tapi ia masih berusaha membela mamanya.
“Tapi, kata mama…”
“Aduh, sayang,” kata si wanita berkata seraya mengelus rambut si gadis kecil. “Coba ibu tanya, siapa yang mengajar kalian mengeja? Ibu guru, atau mama?”
“Ibu guru!” spontan kelas itu menjawab.
“Siapa yang mengajar kalian berhitung, ibu guru, atau mama?”
“Ibu guru!”
“Siapa yang mengajar menggambar, ibu guru, atau mama?”
“Ibu guru!”
“Jadi siapa yang lebih pintar, ibu guru, atau mama?”
“Ibu guru!”
Gadis kecil itu akhirnya menerima superioritas si wanita dari mamanya.
“Nah, ibu lanjutkan ceritanya ya. Kalau mau apinya lebih indah, berikan cairan ini. Ini cairan ajaib. Tapi ibu tidak bisa memperlihatkannya—cairan ini hanya bekerja di malam hari. Kalau kalian mau akan ibu bagi,”
“Tapi kalian harus berjanji, akan merahasiakan tentang api dan cairan ajaib ini dari siapapun juga. Kalau tidak, kalian tak bisa melihat keindahan api lagi. Nah sekarang yang ingin cairan ajaib, silakan maju kesini,”
Si wanita mengeluarkan dari kopernya lima belas botol plastik kecil berisi bensin. Keruan saja anak-anak menyerbu meja guru, meminta cairan ajaib itu.
Bel berbunyi, menandakan waktu turun main. Setelah anak-anak di ruangan itu keluar menuju halaman, wanita paruh baya itu terhuyung lemas dan jatuh tertidur di atas meja, hingga akhirnya pintu ruangan itu dibuka, dan masuklah Kepala Kelompok Bermain dan dua orang perawat dengan gegas. Segera salah seorang dari kedua perawat itu menyuntikkan sesuatu ke nadi si wanita, lalu kedua perawat iu mengangkat dan memapah si wanita meninggalkan ruangan, menuju ambulans yang menunggu di parkiran.
Setelah wanita itu dimasukkan kedalam ambulans, perawat yang memberi wanita itu suntikan meminta detail kejadian kepada Kepala Kelompok Bermain. Saat si perawat hendak beranjak meninggalkan ruangan, Kepala Kelompok Bermain menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.
“Apa benar wanita ini…gila?”
“Depresi, Bu, tepatnya. Seharusnya anda lebih berhati-hati lagi, Bu, mengingat ramainya kasus penculikan akhir-akhir ini. Untung kita tiba tepat waktu,”
“Saya mohon maaf. Ini benar-benar kesalahan saya. Namun saya sangat terkejut karena ia memang punya kartu pegawai dari yayasan pendidikan yang menaungi kelompok bermain ini. Dan penampilannya juga mencitrakan seorang guru. Makanya saya percaya saja dia guru pengganti salah satu guru kami yang sedang cuti,”
Si perawat menatap mata Kepala Kelompok Bermain dalam-dalam.
“Sebenarnya hal ini tidak terlalu etis untuk saya ceritakan, tapi baiklah, akan saya ceritakan juga pada anda, karena secara tidak langsung anda berkaitan dengan wanita ini. Saya percaya pada integritas anda, untuk tidak menceritakan hal ini kepada orang lain.
“Wanita ini memang seorang mantan guru Kelompok bermain ini, Bu.
Kepala Kelompok Bermain terkesiap sejenak, bingung mau bilang apa. Si perawat menarik nafas dalam-dalam, lalu melanjutkan.
“Guncangan batinnya ia alami sejak sebelas tahun lalu, saat rumahnya, yang berisi suami dan anak tunggalnya, habis terbakar. Dan sungguh hilanglah kewarasannya, setelah ia mengetahui bahwa pelaku pembakaran—sang pyromaniac—adalah seseorang yang pernah ia ajar—seorang alumni kelompok bermain ini.”

Malam itu, sepuluh rumah habis dilalap api.

1 komentar:

rinds★, mengatakan...

coba lo baca cerita ini sambil denger 'Waltz In C-Sharp Minor' - Choppin..
jujur, gw sih merinding..

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief