Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Cantik

Aku tahu aku begitu cantik. Betapa banyak orang iri padaku, aku juga tahu. Tapi di mataku, selalu ada yang kurang dari pantulan cermin di kamarku. Barangkali aku cuma salah taruh lampu. Tapi begitu kulihat pantulan cermin di Salon Kania, kenapa sepertinya masih ada yang kurang juga? Begitu juga pantulan pada cermin toilet wanita di Plaza Indonesia. Kenapa selalu ada saja kurangnya? Apa karena ini, majalah-majalah jarang memintaku dipotret lagi? Mau bagaimana lagi. Semua harus kupermak sendiri, pakai krim-krim dan pil-pil yang (katanya) impor dari Prancis yang kubeli dari Ibu Inggis, sampai hampir semua honorku habis. Dan besar pasaklah pada akhirnya. Maklum, janda. Beranak pula. Aku memang tak punya apa-apa, selain muka dan akting yang pas-pasan saja. Tapi film, penghasilan utamaku di zaman dulu, sepi sekarang ini…Hingga akhirnya terpaksa aku menerima ajakan Jeung Nani, dan mulailah aku berkenalan dan berkencan dengan Mas Ardi, Mas Syahri, Mas Danny, Mas Taufik…Anakku baik-baik saja, sudah kutitipkan pada adikku Wibisana.
Awalnya penghasilan dari berkencan kupakai sebagai modal unuk mempermak diri supaya bisa jadi model lagi, tapi lama-lama kerjaan habis, majalah-majalah pria ditutup begitu saja, dan berkencan pun jadi sumber penghasilanku yang utama. Mau dibilang pelacur kek, apa kek, mau bagaimana lagi. Setiap orang juga melacurkan diri dengan cara mereka masing-masing. Ada yang melacurkan hati nurani, ada yang melacurkan integritas diri...Setidaknya aku hanya melacurkan kelamin.

Dimataku, Ibu Nia begitu sempurna. Dia lembut dan mengerti orang-orang di sekitarnya. Memang penampakan luarnya tidak mengabarkan itu, dan sepintas lalu tidak ada yang menarik dari dirinya. Apalagi sekarang ini. Wanita itu lima puluh tahunan umurnya, tapi terlihat jauh lebih tua. Noda-noda kecoklatan, kerut-kerut, dan keriput sudah memenuhi ruang kosong wajahnya yang seakan belang, separuh putih separuh sawo matang, menyisakan tempat bagi anggota muka yang, bagi si empunya, buruk rupa. Mata yang seakan terbelalak terlalu besar. Hidung yang terlalu mekar melebar. Bibir penuh yang datar tanpa kurva. Namun hatinya begitu tulus, begitu cantik.
Satu yang aku sayangkan: beberapa waktu silam, dia jatuh cinta pada seorang pria, dan itu bukan aku. Tentu saja bukan aku. Aku yang hanya tukang sapu salon. Aku yang masih muda, sementara Ibu Nia begitu dewasa. Pria itu pelanggan salon Ibu Nia. Kuakui ia memang tampan, dan sangat ramah pada Ibu Nia, hingga Ibu Nia tersanjung karenanya. Andai saja pria itu baik-baik saja, aku tak akan kenapa-napa. Tapi rupanya ia begitu dangkal memandang cantiknya seorang wanita, dan aku tak tega pada Ibu Nia. Ibu Nia sungguh cinta pada si pria, hingga pada akhirnya memberanikan diri menyatakan cintanya pada si pria. Bayangkan, Ibu Nia! Yang pemalu, sering gugup, dan begitu tertutup, menyatakan cintanya pada seorang pria! Tapi pria itu malah memandang jijik, dan dengan dinginnya berkata bahwa ia datang ke salon ini bukan karena Ibu Nia, tapi karena tergila-gila pada aktris tujuh puluhan yang dulu luar biasa cantiknya, dan hingga kini pelanggan tetap salon ini—Sukesi. Dan dengan teganya si pria berkata,
“Kamu sama sekali tak sebanding dengannya,”
Bagi Bu Nia, waktu bukannya arus kencang yang mampu menggempur sakitnya, tapi aliran lamban yang mengendapkan apa saja yang ada dalam alirannya. Bukannya lupa pada si pria, ia malah menjadi tergila-gila, hingga ia terobsesi menjadi wanita yang diidamkan si Pria, menjadi Sukesi. Ia ingin cantik, ia ingin sintal, seksi. Ia lakukan segalanya demi menjadi cantik. Dari susuk hingga bedah kosmetik, yang katanya tidak sakit, ternyata malah membuat wajahnya berantakan oleh parutan dan kerutan. Tak heran sekarang salonnya sepi. Kata orang-orang, pemiliknya seram seperti gergasi. Akan tetapi, aku tetap menyapu di salon itu. Biar bagaimanapun juga, buatku Bu Nia masih cantik, meski cantiknya berkurang sedikit demi sedikit.

“Selamat siang, bagian konseling Yayasan Pemberdayaan Wanita, dengan Sinta disini, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya mau tahu informasi lokasi operasi plastik yang baik. Saya…kepingin cantik,”
Cantik?
Cantik, untuk Sinta, adalah derita.
“Kami tidak punya informasi mengenai lokasi operasi plastik, ibu. Lagipula kami dari Yayasan Pemberdayaan Wanita sangat tidak mendukung operasi plastik yang bersifat kosmetis, ibu,”
“Begitu ya? Habis kalau mau cantik, mau bagaimana lagi selain operasi plastik?”
“Kenapa ibu ingin benar menjadi cantik?”
Aneh benar, ibu ini ingin cantik.
Bagi Sinta, permintaan wanita ini sungguh tak dapat diterima.
Kecantikan yang nyaris tanpa cela sudah menyertai Sinta semenjak lahirnya. Seluruh tubuhnya terangkai begitu indah, seakan dialah pencitraan dari kata cantik itu sendiri. Tiga puluh tahun sudah umur Sinta, namun waktu seakan tak mampu menorehkan sedikit juga tanda pada wajahnya.
Bagaimanapun juga, bagi Sinta, bayangan dalam cermin yang ia lihat setiap hari adalah kutukan. Kutukan seumur hidup dari kedua orangtuanya yang sialan—ayahnya, sang aktor film yang mati muda karena overdosis, dan ibunya, sang aktris yang lebih sering berakting dalam acara-acara gosip karena terus menerus gonta-ganti pacar dengan pengusaha-pengusaha kaya ibukota.
Gara-gara wajah cantiknya ia jadi gunjingan dimana-mana. Anak siapa? Anak siapa? Memang Ayah kamu yang sebenarnya siapa? Siapa ayah Sinta, peduli pun mereka tidak sebenarnya. Hanya senang saja mereka mempertanyakan, karena dengan demikian moral mereka seakan lebih terpuji dari moral Sinta. Dan sering benar rambutnya dijambaki, tubuhnya dicubiti, dan wajahnya dicakari, saking irinya siswi-siswi di sekolahnya pada kecantikannya.
Sekali pernah ia codet mukanya dengan silet—supaya dianggap orang jelek. Lukanya hilang cepat benar, dan parut yang tersisa malah dianggap banyak orang membuat wajahnya bertambah unik, semakin cantik.
Terdengar suara sesengukan di seberang. Setelah membuang ingus beberapa kali,
sang wanita meneruskan.
“Saya kepingin…ada laki-laki yang mau sama saya mbak. Saya sudah lima puluh tiga tahun dan belum pernah ada laki-laki yang tertarik sama saya,”
Laki-laki adalah utusan neraka.
Mulanya adalah pamannya yang duda, kepada siapa Sinta dititipkan di kala ibunya berkencan atau bekerja. Tak tahan juga sang paman melihat Sinta yang saat itu masih belasan dan baru berkembang badannya. Lalu teman-teman sang paman ikut serta menjamahinya, sampai Sinta terbiasa, sampai ia mati rasa, sampai pada akhirnya ia buka tubuhnya sebagai toserba, sekadar tempat usaha…sampai Yayasan Pemberdayaan Wanita menemukan dan mengangkatnya.
Biar sudah begitu, bukan berarti siksa kutukan itu lepas begitu saja dari dirinya. Seringkali Sinta disuiti, dilempari ocehan panas yang tak pantas, bahkan pernah juga diancam diperkosa oleh laki-laki mabuk di dekat gang kontrakannya. Untung saja kali itu ia mampu berlari.
Hidup Sinta adalah untuk wanita-wanita yang pernah terbuang, seperti dirinya. Dan mendapatkan telepon dari seseorang yang meminta kutukan yang menyiksa dari lahirnya, baginya, adalah hinaan yang sekejam hukum rajam.
Basabasi sajalah biar ibu ini diam.
“Ah, masa? Mungkin ibu saja yang kurang peka pada keadaan sekitar. Dan laki-laki tidak selamanya melihat wanita dari penampilan luar saja lho, bu. Ada juga yang tertarik pada kepribadian si wanita. Melihat inner beauty-nya, istilah zaman sekarangnya. Kalau ibu memiliki kepribadian yang menarik dan ibu merasa nyaman dengan diri ibu, inner beauty ibu pasti akan terpancar. Dan laki-laki yang baik bisa melihatnya, bu,”
“Tapi…anu mbak, saya udah ikut seminar yang tentang begituan dari setahun lalu. Udah pakai krim ini, coba krim anu. Tapi kok, belum ada laki-laki yang mau sama saya ya? Saya pikir ini pasti gara-gara wajah saya. Makanya, saya pingin cantik saja,”
Jadi cantik sana! Biar tahu rasanya dianggap sebagai mainan, dianggap sebagai barang, dipegang-pegang, digerayangi tangan-tangan menjijikkan…
“Aduh ibu…Ibu boleh ambil wajah saya sekarang. Kupas, lalu kenakan…”

1 komentar:

Arna mengatakan...

This one is very nicely said. I got the message and the questions.

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief