Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Eulogi

Rani, betapa aku menginginkanmu. Betapa indah dirimu pada hari itu, hari pertama kali kulihat dirimu. Ingat benar aku, kau berbalut kebaya biru di pernikahanmu dengan Pak Haji Husin, atasanku, si kepala puskesmas korup itu. Dan aku pun terpaku memandangmu, pemandangan terindah yang pernah kulihat. Hatiku kelu, Rani, andai kau tahu.
Dan kali kedua aku memandangmu adalah sejenak yang takkan pernah kulupa, saat itu kau tertunduk sendiri, menangis di belakang surau kampung kita yang sepi. Setelah beres pasien hari itu, hendak ke surau aku untuk berwudu. Dan kulihat dirimu, begitu sedih, begitu sendu. Karena apa aku tak tahu. Sayang, mendengar langkahku datang, kau langsung pulang.
Setahun berlalu sejak kejadian di surau itu. Sejak hari itu tak pernah kulihat atau kudengar lagi kabarmu—segan juga aku bertanya pada suamimu. Yang kutahu kini hidupmu hanya sekitar rumah dan surau saja, dan telah bercadar kini kau rupanya. Cantikmu, yang begitu kurindu, tak pernah kulihat lagi, kecuali selama bulan puasa: saat tarawih, sekali-kali kucuri pandang ke bagian wanita, hanya untuk melihat indah bola matamu yang sehitam langit malam.
Dan pada akhirnya berbincang jugalah kita. Aku ingat jelas hari itu, daun-daun jati meranggas dan berguguran tertiup hembus kering angin kemarau. Tanpa cadar, kau datang ke puskesmas hari itu. Kau tempelkan segenggam esbatu ke dahimu. Wajahmu campuraduk merah dan biru. Pagi itu suamimu baru berangkat bertugas entah kemana, dan di puskesmas hanya ada aku.
Tanggung jawabkulah untuk mengetahui penyebab dari luka dan memar di wajahmu. Maka kutanyakanlah hal itu sembari kujahit kulit wajahmu. Entah kenapa tangismu tak terbendung, dan kau beberkanlah apa yang terjadi setahun belakangan ini.
Rani, rupanya begitu. Kau mau saja dimadu supaya rumah keluargamu di Solok tidak jadi disita karena telah jatuh tempo hutangnya. Dan betapa keji Haji Husin: senang rupanya ia menyiksa wanita hanya untuk memuaskan nafsunya. Cadar hitam yang selama ini kau kenakan hanyalah penutup luka-luka dan memar yang diberi suamimu—keparat benar manusia itu. Dan tak ada satu orangpun yang tahu, bahkan orangtuamu.
Entah mengapa, puskesmas sepi seminggu itu, dan seminggu berlalu tanpa sehari pun kau lewatkan bersamaku. Hari Selasa akhirnya pengobatanmu selesai, namun tak mau kau pulang. Lagi-lagi kita berbincang panjang. Tentang ketakutan-ketakutan, harapan-harapan, dan mimpi-mimpi. Rupanya kau ingin jadi pramugari. Buatku sesuai sekali, kau begitu cantik, begitu lembut. Penerbangan dengan pramugari sepertimu mungkin seperti perjalanan ke surga ditemani bidadari. Malam mulai larut. Terpaksa kupinjamkan tempat tidur puskesmas untukmu.
Tidurmu adalah kedamaian dunia untukku. Akhirnya terpulas jelas sebentuk senyum, yang kulihat pertama dan terakhir kalinya di pernikahanmu.
Rani, sakit aku melihatmu hidup penuh tangis seperti itu. Aku ingin hanya senyum yang terbentuk di bibirmu. Senyum, dan senyum saja. Bukan gurat kecewa atau sakit menahan luka. Biar kuabadikan dirimu dalam senyummu, kala kau tertidur tenang di sampingku. Maaf. Satu bisik kuberi untukmu. Sertamerta seratus gram valium kuhujamkan ke nadimu. Maaf. Aku terlalu mencintaimu, dan tak tega aku melihatmu terjaga dalam duka. Rani, jika hanya dalam tidur saja kau dapat tersenyum, maka tidurlah selamanya. Biar dunia yang renta ini saja yang hidup dalam deritanya, jangan kau, yang begitu indah, begitu kucinta.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief