Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Hilang

Angin menjerit kencang seperti binatang liar yang terjerat dan meronta kesakitan, sementara gelap membungkus padang ilalang yang bergoyang seperti kerasukan. Sekelebat—bukan, dua kelebat cahaya redup melintas di cakrawala. Rupanya senter, yang dibawa oleh dua pendaki dengan carrier di punggung mereka, yang berjalan meraba, entah menuju mana atau dari mana. Keputusasaan terlukis jelas di wajah yang satu, sedang kesombongan di wajah yang satunya.
“Sia-sia, Ji, lebih baik kita buka tenda disini—lahannya datar dan kering,”
Yang diajak bicara diam saja.
Tik.
Tik.
Tik.
Air menitik, awalnya pelan, namun kelamaan menjadi guyuran besar, yang karena diterpa angin kencang seakan menjadi ratusan jarum tajam yang menghujam dalam kelam. Dan DAAAAR!—petir menyambar-nyambar. Kekalutan merasuki dia yang berjalan di belakang, yang wajahnya diliputi keputusasaan.
“Sudah Ji. Aku tak peduli lagi soal harga diri—aku akan tidur disini. Terserah kau mau ikut atau tidak,”
“Harga dirimu memang sudah tak kupedulikan lagi, Tomi! Malu aku mendengarmu merengek sepanjang perjalanan tadi. Kau, yang kupikir paling tangguh diantara anak-anak kota itu. Kau yang sama-sama dari pulau kecil sepertiku. Ternyata sama saja dirimu dengan banci-banci manja itu!”
Dipancing seperti itu, berang juga si wajah putus asa.
“Anjing! Aku berusaha untuk bertindak rasional!”
“Rasional? Di tengah gunung? Pengalaman itu segala-galanya disini, kau tahu sendiri! Dan siapa yang paling berpengalaman disini? Siapa yang memimpin empat kali ekspedisi? Siapa diantara kita berdua yang dicalonkan menjadi ketua perkumpulan ini?”
“Oh, berarti bodoh sekali aku, bisa tersasar sampai lebih dari lima jam begini, padahal membawa kamu, seorang pusaka sakti…”
DAAAAR!
DAAAAR!
DAAAAR! Gegar cahaya di angkasa, sementara air hujan seakan menyayat kulit mereka.
“Bangsat! Masalah ini tidak akan ada kalau kamu tidak memulainya! Kutanya sekarang, siapa yang mau menerima taruhan untuk membuka jalur berdua saja?”
“Aku hanya berusaha untuk bertindak rasional! Bahwa berjalan di gunung itu harus dalam kelompok berjumlah anggota ganjil cuma takhayul tolol perkumpulan kita saja! Memang hanya dua orang yang kita perlukan—jika cuaca diabaikan! Sejak semula memang penentuan tanggal kita salah, dan persiapan kita kurang!”
“Tolol, kau yang kalah taruhan, dan sekarang aku yang salah?”
“Aku tidak menuduh siapapun! Kalau kau berkesimpulan seperti itu…”
Suara angin, hujan, petir, dan manusia bercampur menjadi satu, melengkingkan kemurkaan. Dan dalam keremangan seperti ini, benar atau salah, sahabat atau musuh, sudah terlalu sulit untuk dibedakan lagi.
“Jadi kau menuduhku?”
“Ya, bedebah! Kaulah penyebab kita tersasar entah dimana seperti sekarang ini! Siapa yang memimpin jalan dari tadi, hah? Yang selalu membanggakan dirinya, yang katanya punya ‘intuisi pencari arah’?”
Inilah saat-saat gelap, ketika aliran nalar tersumbat amarah yang telah membuncah.
“Anjing kau!”
Dua kelebat cahaya itu bertemu lalu bersilangan. Lalu gedebrak gedebruk diatas ilalang—yang masih bergoyang bagai kerasukan. Dua manusia itu bergumul dan beradu. Dan mereka terus begitu, disoraki angin, hujan, dan riuh genderang guntur yang menggelegar. Ada jurang menganga di muka pun mereka tak sadar. Hingga akhirnya kedua kelebat cahaya itu menghilang, dan padang itu kembali diselimuti kegelapan. Gelap yang sangat, segelap kedua hati mereka.

1 komentar:

dina_luvsblue mengatakan...

haha. sangat menarik. kalau menurut interpretasi saya, judul hilang ini mengacu pada ending cerita bahwa kedua pemuda yang tidak berkepala dingin ini akan jatuh ke dalam jurang yang tadi anda sebut-sebut. apakah benar begitu?

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief