Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Hitungan Mundur Manusia

Barker berjalan begitu terburu-buru menuju Sayap Timur. Begitu terburu-burunya hingga selirik pun tak ia berikan pada Swanson, pegawai baru berambut pirang sebahu yang sungguh cantik itu.
Sayap Timur dipenuhi oleh tamu-tamu penting malam itu. Politikus, diplomat, seniman, atlit, dan pujangga, berbalutkan busana malam rancangan desainer-desainer ternama, melantai diiringi irama jazz. Meriah, riuh rendah. Haha hihi terdengar disana-sini. Gaungnya kuat sekali, sampai-sampai chandelier kristal besar yang tergantung di tengah ruangan berayun sedikit ke kanan dan kiri. Mencari Tuan Eisenhower akan sulit sekali di tengah lautan manusia berjas malam hitam ini, pikir Barker. Setelah berjingkat dan menyelinap melewati manusia-manusia yang sedang berdansa dan pegawai-pegawai yang membawa nampan-nampan berisi hors d’oeuvres eksotik aneka warna, sampai jugalah ia di hadapan Sang Presiden Amerika, yang sedang berbincang bersama istrinya dan perwakilan dari Kedutaan Besar Indonesia. Keringat membasahi punggung kemeja Barker.
“NSA, sir. Masalah keamanan negara, amat mendesak,”
Sang presiden tampak tidak siap untuk mendengar berita yang akan disampaikan pegawainya.
“Sudahkah kau terima mereka?”
“Sudah, sir, mereka menunggu di Ruang Resepsi,”
Sang Presiden berbicara sejenak pada istrinya dan sang diplomat, lalu bersama Barker bergegas meninggalkan ruang pesta.
Dua orang pria berjas hitam menyambut Sang Presiden saat ia dan Barker memasuki Ruang Resepsi.
“Thomas Coldwell, NSA, sir,”
“Paul Jefferson, NSA, sir, Bapak Presiden,”
“Tuan-tuan, silakan duduk.Terima kasih Barker, sekarang kau boleh pergi,”
Saat Sang Presiden mempersilakan kedua tamunya duduk, kekhawatiran jelas tergambar di wajahnya. Posisi Amerika Serikat di dunia internasional jelas tidak aman saat ini, dan Department of State harus pintar-pintar melobi kalau tidak mengintimidasi, atau bahkan memanipulasi. Pikirannya melayang kembali ke perbincangannya dengan diplomat Indonesia pada pesta tadi. Blok Timur dan negara-negara yang kalah dalam Perang Dunia lalu sedang memandang Amerika dengan tatapan benci. Dan Soviet, pemimpin Blok Timur, dengan cepa membangun reputasi di kalangan negara-negara ketiga.
“Ada apa?”
Kedua agen NSA itu saling berpandangan singkat.
“Mungkin ada baiknya kami langsung menuju ke duduk persoalannya, karena kami tidak ingin mengganggu kegiatan protokoler malam ini. Ini berkaitan dengan penemuan kami pukul empat sore ini di wilayah isolasi Area 51. Sebuah transmisi asing, sama sekali tak bisa dikenali tiba-tiba masuk ke salah satu perangkat ekstraterestrial yang sedang kami teliti. Isinya sebuah pesan untuk anda, sir,”
“Untuk saya?”
“Secara spesifik, makhluk yang disiarkan dalam pesan tersebut menyebutkan nama anda, Bapak Eisenhower, dan secara spesifik ia meminta agar pesannya disampaikan malam ini,”
Sang Presiden terkesiap. Kecurigaan militer mengenai aktivitas ekstraterestrial di Area 51 rupanya terbukti.
“Apakah pesan ini sungguh aman untuk saya terima? Maksud saya, apakah kalian benar-benar yakin kalau pesan ini bukan rekayasa pihak Soviet semata?”
“Kami yakin, sir, seratus persen, bahwa ini bukan teknologi manusia. Kami telah meminta dukungan dari Angkatan Laut untuk pengamanan ruangan ini malam ini. Dan ini semua dirahasiakan dari publik, tentu saja,”
“Sampaikan pesannya, kalau begitu,”
Coldwell meletakkan sebuah cakram perak berkilat keunguan dengan diameter sekitar sembilan sentimeter di atas meja. Di tepi luar cakram itu terdapat sebuah relief suatu simbol rumit. Coldwell menyentuh relief itu dengan lembut.
Perlahan, cakram itu berpendar biru. Dari tengahnya memancar segaris sinar yang kemudian membentuk grafik suatu makhluk bercahaya setinggi sekitar tiga meter, yang kenampakan fisiknya tak dapat terdeskripsikan dalam keterbatasan perbendaharaan manusia, dalam bentuk hologram tiga dimensional. Megah, agung, mungkin dua kata tersebut mampu menggambarkan makhluk itu saat ia memulai pesannya.
“Selamat malam, Tuan Eisenhower,”
Makhluk itu berbicara bukan dalam bahasa manusia, tapi melalui bahasa simbol yang begitu saja diterima dan diinterpretasi oleh otak Sang Presiden, sementara kedua agen NSA itu berpegangan erat pada lengan kursi.
“Selamat malam. Apakah pesan yang ingin anda sampaikan pada kami?”
“Ini adalah peringatan kedua, Tuan Eisenhower, apakah senior anda tidak pernah menyampaikan peringatan kami yang pertama?”
Apa maksud semua ini? Pikir Eisenhower. Tuhan, peringatan? Seniorku? Apa yang disembunyikan Truman yang aku tidak tahu? Belum selesai konflik dengan komunis, kini muncul…alien?
Sang Presiden tidak tahu bahwa semua pikirannya terbaca oleh makhluk yang berada dihadapannya.
“Tampak jelas bahwa anda tidak tahu apa-apa mengenai perjanjian kami dengan pemimpin manusia lima puluh tahun yang lalu. Dan tampaknya adalah penting bagi saya untuk memperkenalkan diri.
“Saya adalah utusan dari Bangsa Pengembara. Bangsa kami menjelajahi sudut-sudut alam raya selama berjuta tahun cahaya untuk mempelajari kehidupan dan merunut kerumitan jaring-jaringnya.
“Bumi adalah salah satu laboratorium kami, dan makhluk-makhluknya adalah hasil eksperimentasi kami. Banyak yang gagal dan musnah karena perubahan fisik semesta, banyak yang adaptif dan bertahan, seperti bangsa manusia.
“Awalnya kami cukup yakin bahwa kalian, bangsa manusia, adalah salah satu hasil eksperimen kami yang paling sukses, dan bahwa kalian akan menjaga kelangsungan hidup makhluk lainnya. Tapi rupanya praduga kami tidak tepat juga—pola hidup kalian sama rupanya seperti virus, salah satu hasil eksperimen kami yang tertua. Replikasi, destruksi, replikasi, destruksi, kalian lakukan berulang kali, tanpa henti.
“Lima puluh tahun waktu bumi yang lalu, kami memberi peringatan pada Pemimpin Manusia sebelum anda, Nyonya Victoria, untuk memulai memperbaiki hubungan baik dengan makhluk-makhluk bumi lainnya. Kami berjanji akan mengevaluasi lagi lima puluh tahun setelahnya. Dan kini kami datang kembali, dan bukannya hubungan buruk itu kalian perbaiki, justru semakin hancur saja bumi ini.
“Ini adalah peringatan kami yang terakhir Tuan Eisenhower. Makhluk-makhluk bumi terlalu sayang untuk punah di tangan kalian. Kami akan memanen apa yang kami kembangkan jutaan tahun silam, dan memusnahkan apa yang kami anggap sebagai hama: eksperimen yang dalam prosesnya mengalami kegagalan, seperti kalian. Akan kami bawa semua makhluk hidup selain manusia yang tersisa untuk kami pelajari entah di titik mana lagi di alam raya ini lima puluh tahun waktu bumi mendatang, kecuali kalian dapat membuktikan pada kami kepantasan kalian menjaga planet ini.
Dan tawaran diplomasi yang saat ini sedang anda susun di dalam pikiran anda, maaf, tak dapat kami terima. Sayang sekali, keputusan kami ini sudah tidak dapat ditawar lagi.
Selamat malam, Tuan Eisenhower, semoga manusia mampu memanfaatkan waktu yang mereka punya sebaik-baiknya,”
Cahaya putih terang berpendar dari hologram makhluk itu ke seluruh sudut ruangan, kemudian dalam sekejap menghilang. Tanpa daya, Sang Presiden tersungkur di lantai, ternganga. Sementara di Sayap Timur, gelak tawa membahana. Botol-botol champagne siap dibuka.
“3…
2…
1…
“SELAMAT TAHUN BARU 1958!”Dan manusia pun memulai hitungan mundur kepunahannya.

1 komentar:

Pulung Aldila mengatakan...

cerita yang menarik..ingin tahu kelanjutannya jadinya ;)

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief