Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Pesta Perpisahan

Aneh. Padahal belum juga jam tiga, tapi matahari sudah menapak menuju Barat. Dan sinar senjanya yang sedikit demi sedikit menyentuh cakrawala, menyapukan berkas keemasan pada kaca-kaca jendela kontrakan Bima—bukan hanya Bima yang tinggal disana tentunya, tapi juga tiga mahasiswa Pariaman lainnya yang sedang berkuliah di Jakarta.
Deru motor yang sedang dipacu memecah kesunyian sore itu. Bima menyingkap tirai jendela depan dan mengintip. Bebek jingga. Pengemudinya—tukang pos rupanya—memasukkan sebuah amplop ungu ke dalam kotak surat Bima, lalu memacu kembali motornya. Pasti undangan pernikahan, tebak Bima seraya membuka pintu rumahnya, lalu berjalan menuju kotak surat.
Tebakannya salah. Memang isinya sebuah undangan, tapi bukan undangan pernikahan. Isi amplop itu sehelai kartu, dicetak diatas karton tebal biru pekat dengan tinta ungu.

Undangan



Seluruh peneliti sektor 17 C diharap hadir pada

Malam Perpisahan
Makan Malam dan Pesta Dansa

Sabtu, 10 November 2007
Pukul 22.00 - selesai
Private Lounge
Omega Club
Jl. Mahakam 13 Jakarta

Harap mengenakan kostum “Tokoh Favorit Anda”
Tersedia hadiah bagi peserta dengan kostum terbaik.

Ini salah kirim yang asyik sekali! pikir Bima.
Untuk siapa ya ini harusnya? Pikirnya lagi. Bu Baskoro? Tetangga depan yang pensiunan dan sekarang jadi kepala kelompok bermain? Alamat Bu Baskoro memang beda satu huruf saja dengannya. Mungkin saja dia peneliti anak-anak. Ah, kenapa harus peduli. Pesta kostum untuk para peneliti? Di Omega, lagi! Bima sangka para peneliti tak sempat berpesta karena waktu mereka habis memelototi preparat dan mencatat-catat. Undangannya dikirim melalui pos, pula. Ironis! Bima tertawa dalam hati.
Bima—si raja dansa, penghancur pesta-pesta besar Jakarta—tentunya tak akan melewati pesta seunik ini. Dan tempat dimana pesta akan diadakan, Klub Omega, adalah klub malam yang sedang panas-panasnya dibicarakan di Jakarta. Pestanya esok hari—aku harus menyiapkan diri. Bergegas ia membongkar lemari pakaiannya, mencari kostum yang sesuai dengan tema. Tanpa pikir panjang, ia putuskan untuk datang.
Tanggal sepuluh, pukul sembilan lebih sepuluh. Kostum Superman. Pasti seru, pikir Bima. Ia kenakan kostum lycra biru merah yang gerah itu, mengoleskan gel ke rambutnya, dan mempersiapkan dompetnya. Oke. KTP, KTM, SIM, STNK, uang secukupnya…semua siap, pikirnya. Dipaculah Baleno merahnya menuju Klub Omega.
Setelah menunjukkan kartu undangannya, Bima diantar seorang wanita berseragam cheongsam marun menuju Private Lounge yang terletak di lantai dua. Pintunya dari kayu jati Belanda, berukir adegan pertarungan dua ekor naga dan bertatahkan emas disini-sana. Ruang dibalik pintu itu disekati sebuah tirai manik-manik hitam. Bima menyibaknya dan memasuki ruang pesta.
Sekitar dua puluh orang menghentak lantai dansa diiringi dentum drum dan sample-sample dari synthetizer. Pancaran warna-warna dan pola-pola psikadelika berdansa mengikuti mereka. Anehnya tak ada seorangpun diantara mereka yang mengenakan kostum seperti Bima. Mereka tampil seadanya seperti reuni biasa: gaun semiformal bagi wanita, celana bahan dan kemeja bagi pria. Yang hadir juga tampak biasa-biasa saja: pria tua berkacamata, wanita paruh baya berambut keriting kecoklatan, pria kurus tegap tiga puluh tahunan—tunggu, itu salah satu dosenku! Seketika Bima merasa salah tempat. Namun nampaknya mereka sedang berada dibawah pengaruh zat-zat kimia, sehingga tak ada seorangpun yang menyadari kehadiran seseorang berkostum Superman di hadapan mereka. Karena malu, Bima berusaha untuk tidak terkena cahaya—triknya sukses, tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Bagaimanapun juga, ia belum mau meninggalkan ruangan itu begitu saja, sebelum ia mendapatkan minuman gratis yang sedari kemarin menjadi incarannya.
Lagu berakhir. Ruangan itu menjadi terang seketika. Si pemutar lagu mengumumkan sesuatu melalui mikrofon.
“Selamat malam, kawan-kawan!”
Para undangan bertepuk dan bersorak riang.
“Akhirnya berakhir pula masa penelitian kita di Sektor 17, kawan-kawan. Dua hari lagi kita akan dijemput pulang, dan planet sialan ini akan kita tinggalkan. Untuk itu, mengikuti budaya manusia, mari kita bersulang!”
Apa maksudnya?
Para undangan mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi.
“Ada baiknya kita saling memperkenalkan diri setelah bertahun-tahun saling bekerja tanpa mengetahui identitas asli. Jadi, mari, silakan lepas kostum anda, dan perkenalkan diri anda pada orang-orang di sekeliling anda!”
Bima bergidik ketakutan.
Para undangan mengoyak dan mengupas kulit wajah mereka, hingga terkuak sebentuk wajah mengerikan—entah bagaimana bisa dijelaskan—semacam kadal bergelambir berwarna ungu dengan rona kehijauan. Makhluk-makhluk itu saling berdesis liar saat melihat satu sama lainnya dan menjulurkan lidah mereka yang panjang merah muda.
Terhuyung Bima, hingga gedebruk!--pingsanlah dia.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief