Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Tiga Orang Pria dan Tiga Pasang Pendamping Mereka

Kami sayang sekali pada Mas Arya.
Bagi kami, Mas Arya pun begitu sayangnya pada kami, sampai-sampai badan kami dirajah sangat indah, sama indahnya seperti rajahan badan yang dimiliki Mas Arya sendiri. Kami merasa begitu dipercaya olehnya. Kami dirawatnya, dan dibawanya kemana-mana—bahkan sampai ke relung-relung paling jauh yang tak terjangkau manusia seorang pun juga—selain Mas Arya. Semua yang Mas Arya lihat, dengar, dan rasa, kami rasakan juga. Lukisan-lukisannya yang belum beres benar, gelegar rekaman musik metal yang penuh distorsi kasar, wangi nasi Padang yang tercecar, bau ganja yang sedang dibakar, aroma cat dan segala rupa zat kimia, sampai bingarnya raungan hatinya: senangnya ketika lukisannya terjual seharga limapuluh juta. Pedihnya ketika kekasihnya overdosis dan meninggal dunia. Galaunya saat heroin tak mampir menjamahnya barang sehari dua hari saja. Dukanya karena restu masuk institut kesenian tak kunjung diberikan juga oleh kakaknya—satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Kami ada disana, dan kami merasakan semuanya. Apapun yang terjadi, kami tak ingin kehilangan dia.

Kami muak.
Muak, semuak-muaknya muak, dengan dusta yang setiap hari dimuntahkan mulut berbau busuk milik orang ini: Ardi. Nama yang baru kami sebutkan saja sudah membuat jijik. Dan kami bersama orang ini setiap hari, dari siang sampai sore hari. Kadang bahkan sampai larut malam, kalau birahinya sedang tinggi. Pagi-pagi, di selasar depan ia pakai pantofel hitam dari kulit anak sapi. Ia mulai hari dengan jabat sana jilat sini. Di dalam ruangan pribadinya ia buka kancing atasnya dua, ia jadikan kami sebagai pengganti alas kaki. Munafik. Lalu mulailah ia telepon sana-sini, mengibul tak henti. Tentang anggaran-anggaran bohong dan proyek-proyek omong kosong. Sekalinya benar ada pekerjaan, pasti ujung-ujungnya menyengsarakan banyak orang. Penyensoran. Pembredelan. Sampah! Lalu berjam-jam kami bungkam, diam saja memandanginya memeluki wanita-wanita muda di kantornya. Wanita-wanita itu tak peduli, bahkan beberapa senang benar ia cabuli, karena akhir bulan nanti gaji mereka pasti ditambahi. Sungguh, kami muak. Betapa bakhil, betapa jahil! Daripada mesti hidup bersama makhluk setengah binatang seperti dia lebih baik kami dibiarkan usang lalu dibuang. Tapi betapapun kami menjerit, tak akan ada yang bisa mendengarnya.

Kami sangat, sangat lelah.
Sementara pria ini tak menyerah. Langkah demi langkah ia jalani tanpa sedikitpun terucap keluh kesah. Arga, namanya. Sepuluh tahun sudah kami menemaninya—setelah universitas tempat ia dulu bekerja memecatnya, kamilah satu-satunya alas kaki yang ia punya. Idealisme memporakporandakan keluarganya: orang tuanya diasingkan di Buru, kedua kakaknya hilang, hidup adik laki-lakinya—satu-satunya keluarganya yang tersisa—terus-terusan terancam. Padahal dia bukan siapa-siapa, hanya dosen di sebuah FISIP di Jakarta. Namun Departemen Penerangan terancam oleh kuliah-kuliahnya, yang sebenarnya begitu jelas dan lugas, tanpa maksud mengancam siapapun juga. Puncaknya, ketika tulisannya dimuat di sebuah media massa, entah bagaiman dikaitkanlah ia dengan masa lalu orangtuanya yang aktivis Lekra. Dan sejak itu diacak-acaklah kehidupannya oleh pemerintah. Tapi ia sekeras batu karang, yang meski terus-terusan digempur beringas ombak pantai selatan tetap tegar dan gagah, sementara kami hanya produksi massal para buruh yang diupah murah. Kami lemah, kami payah… Sementara ia terus berusaha mengungkap kebenaran, kami sungguh ingin berhenti berjalan.

Di suatu pagi di sebuah lapangan voli, ketiga pasang sendal jepit itu berjajar dan saling bercerita sembari sesenggukan sekali-sekali sementara para pemilik mereka shalat Idul Fitri.

1 komentar:

dina_luvsblue mengatakan...

haha. sebuah metafora yang menarik. menjadikan alas kaki (namely, sendal jepit) sebagai pendamping laki-laki adalah hal yang tepat. mengingat kaum adam tampaknya gemar sekali memakai mereka dalam berbagai kesempatan.

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief