Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Ketiak

Substansial. Siapa yang dapat memutuskan apakah sesuatu itu penting atau tidak? Bukankah masing-masing dari kita hidup dalam dunia masing-masing (yang selalu bersinggungan—kalau tidak bertabrakan—satu-sama lain) yang di dalamnya memiliki kebutuhan masing-masing? Misalnya saja, bau ketiak yang tidak dimandikan dua hari. Bagi orang lain, tentu bau tersebut tidak penting. Malah mengganggu. Namun bagi si pemilik ketiak, bisa saja bau ketiak tersebut penting. Menyenangkan. Menambah semangat.
Adakah kebutuhan universal dunia-dunia paralel ini, kalau begitu, di luar kebutuhan biologis untuk bertahan hidup? Kurasa ada, karena bagaimanapun dunia-dunia paralel ini dibangun atas substansi-substansi yang nyaris serupa. Cinta. Keadilan. Kebenaran. Dan slogan-slogan Kamen Rider lainnya, yang meskipun dangdut tetapi benar adanya.

1 komentar:

Disty Winata mengatakan...

cool stuff, Kak!

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief