Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Niskala

Kukira kau telah pergi, berjingkat menyelinap, keluar dari ruang putih kecil yang telah lama kau tempati. Meninggalkanku hanya bersama indera, dan nurani yang semakin redup pendarnya, sementara naluri terus mengerjap, membara. Semesta menyempit seketika, terbatas pada apa yang kulihat, kudengar, kurasa…dan masih bisakah aku merasa, ketika berada di ambang asa?

Kukira kau telah terjun menuju raguku—yang kian membesar, menjadi lubang hitam raksasa, yang menghisap apa saja yang bercahaya—atau bahkan menuju tiada.

Kukira kau telah menyerah pada nalar manusia, dan membiarkan kami meraba dalam gelap yang teramat sangat.

Namun kau ada. Kau selalu ada. Kulihat kau dalam pijar matahari. Kudengar kau dalam sunyi. Kurasa kau dalam denyut nadi. Kau masih disini, menuntun kami. Kau Niskala, namun ada.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief