Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Orakel

"Kenali Dirimu Sendiri."

Terpahat di kuil Apollo di Delphi, kata-kata tersebut menyambut para peziarah yang berjalan dari penjuru Yunani purba untuk mencari sepercik kebijaksanaan dari Sang Orakel yang tinggal di dalamnya. Kata-kata tersebut mengawali pencarian manusia Yunani akan makna dunia dan kehidupan: sebelum kebenaran mereka rengkuh, sebelum kebijaksanaan mereka dapatkan, pertama-tama mereka harus mengenali diri mereka sendiri. Sementara dunia kontemporer bergerak maju-mundur, membentuk pola-pola yang semakin tidak menentu, ke arah chaos, menurut saya, pendidikanlah benteng terakhir manusia dan kemanusiaan. Sayangnya, terlalu banyak dari kita, yang merasa bijak diatas sana, menjadikan pendidikan sebagai salah satu mekanisme ekonomi semata: bagian dari penawaran dan permintaan. Keberhasilan pendidikan dihitung dari persentase kelulusan, jumlah lulusan yang diserap lapangan kerja, dan statistik-statistik lainnya. Secara kasar, pendidikan bukan lagi menjadi kebutuhan manusia, melainkan kebutuhan pasar. Seperti kurikulum adik saya yang sekarang duduk di kelas dua SMP: sementara kepalanya dijejali berbagai konsep abstrak tentang angka, sedikit sekali ia diberi bimbingan untuk mengenali siapa sesungguhnya dirinya, dan apa perannya untuk semesta.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief