Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Pulang

Panitia Orientasi INAYPScNH 08/09

Kau turun dari bis yang membawamu dari desa itu, sepuluh jam yang lalu, ke Jakarta, rumahmu. Udara kotor menyergap seketika. Dua tahun sudah kau tak menjejakkan kaki disini. Dua tahun sudah kau mengabdi di sebuah desa tertinggal di pedalaman Jawa: awalnya bagian dari program kampusmu semata, lalu entah bagaimana, kau jatuh cinta pada ketulusan warga di sana, dan kau pun memutuskan untuk tidak kembali. Dua tahun sudah kau biarkan keluarga dan teman-temanmu bertanya-tanya: kehadiranmu di sisi mereka hanya berupa surat-surat saja. Kau lihat sekelilingmu. Malam telah begitu larut, bahkan terminal yang biasanya riuh kini sepi. Di kananmu, seorang pengemudi ojek menawarkan jasanya. Dalam gelap, hanya sebentuk senyum yang terlihat. Katamu, tiga ribu. Katanya, harga segitu sekarang ini tidak ada artinya. Kau pun bertanya-tanya, jujurkah ia? Tapi kau menyanggupinya. Lampu jalan menuntunmu pulang. Dalam remang, kau lihat tiga anak berkejaran dengan kecrekan di tangan-tangan kecil mereka. Di sisi lain jalan, seorang pengemis buta merebahkan diri di atas tikar rotannya. Motor yang kau tumpangi terus melaju, menembus gulita, ketika tiba-tiba si pengemudi melambatkan mesinnya. Kau lihat selengkung gapura putih cantik menghias jalan masuk perumahanmu, yang dua tahun lalu tak ada. Adik saya kemaren masuk penjara mas, sang pengemudi ojek berkata. Kenapa? kau bertanya. Dia masih kecil, baru 14 tahun. Dia ngiri sama anak majikannya, yang masih SD udah punya hape. Dia juga kepingin hape. Lah gimana mau beli hape. Saya aja nggak sempet-sempet mau nikah sama tunangan saya. Emang duitnya ga ada mas. Orangtua udah ga ada. Getir terasa di dadamu. Motor yang kau tumpangi melewati rumah besar yang tampak baru direnovasi. Rumah sahabatmu. Keluarga terbaik yang pernah kau kenal di Jakarta. Disini tempat adik saya kerja, mas. Waktu ketahuan nyuri hape, anak majikannya yang lebih tua ngegebukin dia. Sampai babak belur mas. Saya mau ngebales, gimana bisa... Kau tak mampu berkata-kata. Motor itu berbelok menuju jalan rumahmu. Kiri ya mas, katamu perlahan. Kau jejalkan beberapa lembar sepuluh ribuan ke tangan si pengemudi ojek, yang kau tahu takkan mengubah apapun. Kau melangkah, ah, kakimu menginjak kotoran anjing. Kau pun sadar bahwa kau telah tiba di rumah, namun kau belum pulang.

4 komentar:

Aishanatasha Adisasmita mengatakan...

you're like talented ka, you should get into literature maybe, not fsrd haha

-La Vienz- mengatakan...

ironically nice..
and don't worry about 'literature' thing *like aisha said*. in ITB, there's a class called 'Literature Appreciations' *believe it or not, I just found that out myself! haha.

welcome to Bandung, little fella!

Raisa mengatakan...

wah, penganut sastra realisme sosial bukan sih? bagus!

utie mengatakan...

awesome! you teach me more than i got in class.
hha- maaf ka grammernya ngasal. namanya juga lagi belajar hhe ;)

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief