Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Renovasi

Karena aku, kamu, dan dia pada dasarnya adalah produk-produk konstruksi dari rumusan geometri yang serupa, kita bersuka ria dengan fasad-fasad kita, yang seringkali tidak substansial jika dibanding dengan fondasi, kerangka, dan terutama, interior diri kita. Namun entah bagaimana, fasad seakan begitu pentingnya, hingga komponen diri lain terabaikan. Terkadang, fasad demikian mempengaruhi. Demi kesamaan tema dari luar hingga dalam, segala tampilan diri kita paksakan untuk direnovasi. Supaya kelihatan mewah. Supaya kelihatan trendi. Supaya kelihatan seksi. Kemarin gaya mediterania, sekarang gaya minimalis, pokoknya ikut saja. Ya, kelihatannya memang ada perubahan, namun hakikat diri tidak mungkin berubah begitu saja. Atau malah mungkin, bersama perubahan fisik lingkungannya, para penghuni mencoba menyesuaikan diri? Ah. Selamat merenovasi.

1 komentar:

-La Vienz- mengatakan...

haha..
diksi yang apik. kata-kata yang sering dijumpai di majalah-majalah arsitektur maupun text book kuliah saya.. (wait, which text book?! haha. never mind).

but you use it in a very different context of which giving them a brand new meaning. good one, kiddo! =D

I'm gonna link you.. =)

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief