Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Spasi

Dunia yang tadinya berjalan tenang, setapak demi setapak, kini berlari begitu kencang. Tanpa kita sadari, terlalu banyak pemandangan yang kita lewati, terlalu banyak momen berlalu tanpa arti.

Untungnya, kita masih punya ruang pribadi untuk berkontemplasi, dimana kita dapat bercermin, merefleksikan hakikat diri, kembali ke fitrah kita...kamar mandi: Sebuah jeda, sebuah spasi, suaka terakhir manusia.

5 komentar:

riabonsaii mengatakan...

wah keren kak!

Arimbi mengatakan...

hahaha akuilah bahwa buku2 self help itu gak cuma sampah belaka dan kadang2 kita membutuhkan itu di tengah2 ke hectic an hidup hoho

Aishanatasha Adisasmita mengatakan...

kamar mandi memang peaceful..

jend. Rahadian Rahman ( ardi ) mengatakan...

ehm ehm....
apa kabar kak..
masih inget kah kau pada ku....caelah..

gue ngabisin 5 lagu gak di kamar mandi...

eh kak flasdisknya masih nginep dirumah gue tuh...
masih butuh gak?

-pur-

Arimbi mengatakan...

aidil met lebaran ya (gw lg ga bs sms jd lewat media blog aj) mohon maaf lahir dan batin. mari kita temukan harta karun terpendam lainnya di itb!

semoga kuliah pasca libur lebaran bisa membawa energi, aura positif, serta produktivitas lebih buat kita semua. hehe :)

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief