Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Belajar Jatuh

Sudah semestinya saya banyak bersyukur, telah diberikan begitu banyak ruang untuk belajar dan memperbaiki diri. Untuk menyadari keterbatasan diri. Untuk berada di tempat saya yang semestinya... yakni di tengah. Bukan di depan. Saya sadar saya belum mampu mengendalikan ego yang sering waktu mendominasi dan meletup dalam diri. Saya belum mampu untuk berdedikasi. Saya belum pantas digugu dan ditiru, belum lagi keterbatasan fisik yang begitu mengganggu. Bukan pula di belakang, karena saya yakin ada cukup banyak yang bisa saya bagi selain anggukan belagak patuh lalu misuh-misuh.
Di tengah. Memberi semangat. Meluapkan hasrat. Meniupkan harapan. Membagi gagasan.
Beberapa bulan yang lalu, saya telah mengambil satu keputusan besar... yang salah. Saya mengambil peran yang seharusnya dimiliki orang lain.
Tentu saja segalanya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dan saya sangat menyesal.
Bagaimanapun, tanpa kesalahan itu, saya tak akan mampu bercermin diri. Dan mungkin tak akan saya sadari, bahwa hidup saya, betapapun menakjubkannya, tak se-luarbiasa film epik yang sedang diputar dalam kepala, dan bahwa sungguh, setiap manusia memiliki perannya sendiri, yang spesifik, begitu unik, dalam hidup ini. Ini adalah pengalaman jatuh yang sakit, namun indah. Yah sudah lah ya. Lagi pula, bukankah jatuh memang kodrat manusia?

TPB FSRD ITB 2008: maaf, dan terima kasih banyak!

2 komentar:

Titis Andari mengatakan...

Ing madya mangun karsa. We take our turns as we grow up.

Haha, it was refreshing. My friends at campus asked me to write lyrics for a song to be competed on this art olympiad, and they gave me deadline (seriously, writings-competition-deadline, it's overrated, hahaha). So i started digging straight into the closest folder. Of course it's amazing how our everyday company (even our backpack) is inspiring in itself.

-La Vienz- mengatakan...

eh, emangnya lo teh ketua angkatan tpb gitu dil?

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief