Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Menjadi Manusia

M dan Y

Mereka ada dimana-mana. Di belantara yang basah, di padang-padang gersang, di bukit-bukit karang, di desa-desa, di kota-kota...dimana-mana, termasuk di museum ini. Ada lima orang jumlah mereka, dan betapa iri kami terhadap mereka. Manusia.
Mereka sibuk menaruh, lalu memindahkan. Menulis, lalu menempelkan. Menunjuk, lalu menceritakan. Semesta terpeta dengan jelas di kepala mereka, segala yang nampak sudah mereka ketahui maknanya. Mereka tahu segalanya. Mereka bergerak semaunya.
Yang mereka tidak tahu, dibawah cahaya purnama, setiap benda di dalam museum ini mampu bergerak dan berkata-kata. Termasuk Aku, yang sudah berdiri disini sejak entah berapa lama, dan Dia, yang duduk di sampingku.

Tubuh kami terasa semakin ringan setiap purnama. Mungkin kelamaan pahatan pualam ini menguap begitu saja bersama zaman. Setidaknya serpihan kami akan terbang, tidak diam disini...
Tapi keabadian akan tetap bersama kami. Itu janji Sang Pematung, pemberi nyawa kami. Berkah yang ditebus dengan statisnya tubuh ini.

Purnama tiba. Aku dan Dia, dua yang terbesar diantara yang lainnya dan diletakkan di galeri utama, bangkit disentuh cahaya. Berabad lamanya kami disimpan disini, hingga tak ada lagi nama yang kuingat, selain Dia, dan Sang Pematung yang menciptakan kami berdua.
"...Lalu mengapa kita menciptakan kita?" tanyanya.
Obrolan ini selalu terjadi setiap purnama. Lalu aku akan menjawab dengan:
"Karena pada awalnya kita hanya sebongkah pualam, lalu mereka memberi kita bentuk, membuat kita indah, memberi kita cerita, memberi kita nyawa,"
"Dan membiarkan kita tersiksa karena mampu merasa tapi tak dapat menceritakan apa-apa,"
"Ya,"
Lalu diam.

Berabad kami terasing berdua saja, dan tak pernah punya obrolan untuk diceritakan, selain tentang kelakuan anak-anak yang menunjungi museum ini. Itupun kelamaan membosankan. Hingga akhirnya berbicara pada purnama, yang mestinya menjadi kesempatan kami bercerita, menjadi sekadar ritual belaka.

"Pernahkah kau bertanya rasanya berjalan di luar galeri ini?"

Ini pertanyaan yang belum pernah Dia tanyakan padaku, sehingga aku butuh beberapa menit untuk menjawabnya.

"Ya...tapi bukankah sudah cukup kita disini, memiliki jiwa, selalu merasa tenang dan aman, dan selalu dipuja manusia?"
"Sementara manusia menginjak tanah, merasakan hujan, menyentuh dedaunan...tidakkah kau ingin merasakannya?"
"Menjadi patung bukan pilihanku,"
"Diam selamanya juga bukan pilihanku," kata Dia.
Dia bangkit perlahan, meninggalkan pedestalnya. Aku hanya bisa memandangnya terpana.
"Kau gila!"
Dia terdiam, senyum terpahat di wajah batunya.
"Ini luar biasa, lebih menyenangkan dari obrolan-obrolan kita yang terus berulang!"
Aku sungguh ketakutan. Selama ini gerakan kami tak pernah lebih dari sekadar kibasan tangan. Dia menyodorkan tangan.
"Purnama ini saja,"
Aku berfikir lama.
Kuraih tangannya.

Kami berdua menyusuri lorong-lorong panjang dimana lukisan-lukisan sibuk membicarakan diri mereka sendiri sementara kaligrafi-kaligrafi saling sindir dan maki, sampai ke halaman dalam museum itu. Kaki kami menjejak rumput untuk pertama kali. Terang bulan melingkupi kami.
Disana kami berbaring menatap bintang. Tangan kami menadahi kepala.
"Indah sekali," kataku. "Andai aku diciptakan dalam bentuk seperti ini..."
Hening lama sekali.
"Kau bisa," kata Dia, "memandang bintang selamanya,"
"Bagaimana caranya?"
"Lari,"
"Kemana?"
"Ke luar,"
"Ya, lalu saat purnama lenyap, kita akan kembali menjadi patung, dan diletakkan kembali di tempat kita semula!"
"Dengan penjagaan lebih ketat, karena kita disangka dibawa lari oleh pencuri...mungkin juga kita akan dipisahkan selamanya...tapi kenapa peduli? Kalau untuk malam ini saja, aku bisa merasakan menjadi manusia...aku tak peduli,"
Aku terperangah. Kata-kata Dia menggetarkanku.
Dia bangkit.
"Ayo,"

Malam itu adalah malam terindah dalam hidupku. Kami duduk menatap bintang di anak tangga, berjalan melewati bulevar utama, memandang tarian air di taman kota, hingga tanpa sadar purnama menghilang begitu saja, digantikan bersit mentari fajar.
"Aku bahagia,"
"Ya, aku tak peduli jika ini kali terakhir kita berbicara,"
Pijar matahari membakar kaki-kaki pualam kami, lalu tubuh, lalu wajah, yang diatasnya tertatah senyum lirih. Aku mengerang menahan perih.
Aku mengerjap. Di hadapanku tampak sebentuk manusia.

2 komentar:

Kiki mengatakan...

ini manis nan gila dil :)

Aidil Akbar Latief mengatakan...

ahhh makasih ya, hehe romantic mode lagi on nih, cape juga angsty melulu hoho

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief