Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Semut

Pemanasan global, pemiskinan, kejahatan kemanusiaan...

Sesuatu yang begitu agung seakan terlupakan di masa kini, masa dimana citra diri menjadi suatu komoditas ekonomi. Kolektivitas. Seakan terlupakan, bahwa epik-epik besar dalam sejarah ditulis oleh sekumpulan tangan manusia, oleh upaya kolektif, bukan seorang tokoh utama dan sidekick-nya. Makanya Gilgamesh dan Hercules hanya hidup dalam legenda, sementara Revolusi Perancis dan Kemerdekaan Indonesia adalah kejadian nyata. Kolektivitas telah menjatuhkan tiran, mengubah sejarah, membentuk suatu bangsa...

Dua bulan terakhir, kami mencoba kembali mengingatnya. Mempercayainya. Bahwa ada yang namanya tujuan bersama, common cause. Lalu kami bekerja bersama, berkarya, untuk mewujudkannya. Dan dengan rendah hati, kami mengatakan, kolektivitas masih ada dan masih relevan. Sendiri-sendiri mungkin kami bisa kuat, namun bersama, mungkin kami tak terkalahkan. Terima kasih 2008!

4 komentar:

Ninda mengatakan...

*clapping*

Aishanatasha A. mengatakan...

<3

rzanwr mengatakan...

coba presentasi pake blog ya..
keren dil, apalagi tanpa aa dan mm
hehe *clapping* (ikutan ninda)

Aidil Akbar Latief mengatakan...

its more like "err" and "emm" ja. seriously its better than "like.." or "you know..." (ntar responnya "SOK BULE ANYING!!!" haha)

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief