Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Takut

Heathrow, Agustus 2006

Pagi itu kami mendarat tanpa tahu bahwa Inggris dibawah serangan. Senjata yang dipergunakan begitu berbahaya, dapat melipatgandakan diri dengan sendirinya, lalu menyebar dan membunuh tanpa diduga. Senjata yang lebih menakutkan dari virus anthrax atau bahkan bom nuklir sekalipun.

Pagi itu Heathrow lumpuh oleh ketakutannya sendiri.

2 komentar:

rassi narika mengatakan...

well said, well said. i'm expecting some session with deep thoughts and shallow talks..

Aishanatasha A. mengatakan...

reminds me of v for vendetta. somehow

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief