Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Aku Ingin Lebih Intim Lagi Denganmu

Hubungan saya dengan Bahasa Indonesia bisa diibaratkan seperti sepasang suami istri hasil perjodohan orang tua yang baru pertama jumpa di pelaminan.

Istri saya sebenarnya adalah sesuatu yang sebenarnya asing bagi saya. Ia adalah sebuah kuil suci yang dijaga pendeta-pendeta tata bahasa dalam surat kabar dan majalah pengetahuan. Ia begitu jauh, nyaris tak tersentuh dalam keseharian.
Di kelas-kelas Bahasa Indonesia, yang saya pelajari adalah begitu banyak rumus, seakan ada kemutlakan dalam berbahasa... bahasa dilihat sebagai sesuatu yang berjarak, suatu benda mati yang bersama-sama diamati. Padahal sesungguhnya ia dihayati dalam keseharian, dalam gumam pendek di pagi hari, dalam pertengkaran suami istri, dalam bisik-bisik iri, dalam pesan pendek telepon seluler tentang perpanjangan nada sambung pribadi. Padahal sesungguhnya ia begitu lentur, begitu cantik. Padahal sesungguhnya bahasa berdegup, berdenyut, hidup... dan seperti juga kehidupan, ia terus menyesuaikan diri, lambat laun berevolusi. Begitu banyak pengalaman berbahasa yang memperkaya bergeletakan di sekolah-sekolah kita. Peribahasa menumpuk di kamar mandi. Pantun melapuk di dalam lemari. Puisi tersembunyi di kolong meja. Dan dalam perpustakaan, begitu banyak karya sastra yang memohon untuk dibaca! Tapi lagi-lagi, yang kita buka adalah buku teks, yang isinya saduran amatir dari karya-karya sastra dan tentu saja, kumpulan rumus tata bahasa. Di negeri ini, aspek bahasa yang kedua dalam dikotomi Saussurean, parole, bahasa yang dipakai dunia nyata, tidak pernah dianggap ada. Menggunakan parole adalah perselingkuhan dari yang suci. Sesuatu yang hina, atau setidaknya, kelas dua. Kamu, bukan Lu. Saya, bukan Gua.

Aku ingin lebih intim lagi denganmu, istriku.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief