Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Intip

Catatan kunjungan ke Pameran Cerita Benda - Pameran Drawing Seni Grafis ITB Angkatan 2008

Kita bertautan dengan benda-benda. Kita membuat dan memakna mereka, dan kebalikannya, seringkali mereka menjadi penanda dari kita. Beberapa diantara benda-benda itu begitu kuatnya hingga mampu menceritakan diri kita--mungkin karena ketergantungan kita padanya, karena kenangan di dalamnya, atau karena makna emosionalnya. Berhenti sejenak, mengamati, mengapresiasi, lalu menggambarkan ulang benda-benda sehari-hari bisa "menggambarkan" kita, menguak lebih jauh tentang siapa kita, para pengguna benda itu. Gambar adalah salah satu teknik seni rupa tertua, yang membiarkan garis-garis tangan terbaca secara jelas. Yang nampak—benda, dan kualitas garis yang terlihat, akan berbicara lantang tentang pemiliknya.
                                                   
Karya-karya gambar ini menampilkan beragam teknik, medium, dan gaya—yang meski berupa mimesis dari obyek yang di tataran realitas sungguh ada, masih memberi ruang yang luas bagi apresiator untuk menduga-duga. Ekspresi cat air yang tipis digunakan Ahdiyat Nurhartarta dalam gambar botol-botol parfumnya mengolah imaji tentang sesuatu yang mudah pudar—memori, misalnya, yang  seperti wewangian yang menguar. Atau kebalikannya, warna-warna pekat yang digunakan Sendi Adrianov, yang menggambarkan warna jaketnya—merah, yang darinya mengalir garis seperti tetesan darah. Bagi pelihatnya, jaket itu tampak sebagai sesuatu yang perih, penanda dari kejadian menyakitkan, mungkin.  

Menarik untuk diketahui bahwa para perupa dalam pameran ini adalah mahasiswa tingkat dua yang baru memasuki studio seni grafis, sehingga karya-karya ini terasa sebagai sarana eksplorasi dan ekspresi pribadi yang jujur, yang belum terbebani wacana historis, sosial, ataupun politis.

Melihat karya-karya dalam pameran ini adalah pengalaman yang mengasyikkan bagi saya. Ia bagaikan mengintip ke balik rok mini: gadis yang memakainya tentu sadar benar auratnya berpotensi diintip, tapi ia tetap yakin dan tetap mengenakan roknya itu. Sama dengan pameran ini. Para perupa tentu berpameran dengan sadar, namun mereka tak akan pernah tahu, apa yang ada dalam kepala orang-orang yang melihat karya-karya mereka. Mungkin mereka hanya menduga. Mungkin, dugaan mereka benar adanya--mereka berhasil mengintip ke dalam hidup para perupa. Bahkan mungkin saja benda-benda ini bisa bercerita lebih jujur dari potret diri yang terlalu banyak retouch-nya.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief