Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Menolak Menjadi Mutlak

"I'd just be the catcher in the rye and all. I know it's crazy, but that's the only thing I'd really like to be. I know it's crazy."

--J.D Salinger, The Catcher in The Rye


Saya dan Caulfield merasakan keterlemparan yang sama. Keterlemparaan ke dalam eksistensi, tanpa musabab yang mudah dipahami. Tetapi bukan berarti segalanya jadi hampa dan tanpa arti. Seberapapun tolol kedengarannya, kami berdua sama-sama mencoba mendefinisikan sendiri makna keberadaan kami di dunia ini... Definisi yang masih bisa diedit terus menerus tentunya, seperti halaman Wikipedia, dan tak akan pernah mutlak, selamanya.

Mengenang J.D Salinger, dan semua yang bercerita di ruang antara.

2 komentar:

Sasha Subagio mengatakan...

"People never notice anything."
Rest in peace, Salinger.

Aishanatasha mengatakan...

"I hope to hell when I do die somebody has sense enough to just dump me in the river or something. Anything except sticking me in a goddam cemetery. People coming and putting a bunch of flowers on your stomach on Sunday, and all that crap. Who wants flowers when you're dead? Nobody."

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief