Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Kagum

Lawangwangi - Baskoro Tedjo

Adakah kagum sesuatu yang terukur, terstruktur, sebuah arsitektur? Kalau jawabannya ya, rasa dan segala hal diluar logika lainnya akan tertunduk malu di pelataran beton dan kaca.

2 komentar:

Titis Andari mengatakan...

Rasa tidak akan tertunduk malu, ia tidak dicipta untuk itu. Tubruklah rasaku, ia akan mengurai dirinya, tanpa luruh dan berlalu. Kau boleh punguti remahnya, saksikan ia belum selesai menjadi.

Aidil Akbar Latief mengatakan...

Rasaku liat, pejal, tapi juga cair dari segala kemungkinan menjadi. Bener juga lo Tis.

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief