Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Pada Kemana?


Teringat obrolan kecil dengan pak polisi saat mengurus surat kehilangan barang (dompet, yang ternyata tidak hilang atau dicuri orang, tapi terbenam di dalam tas).


Kemana perginya karya-karya seni? Bukankah harusnya ia menjadi penawar kebanalan, pengingat kejatuhan sekaligus keagungan manusia? Lihat, Ia dipingit, disembunyikan, dijauhkan dari sinar matahari, agar kualitasnya tetap dan pada saat yang tepat dapat dijual lagi. Masyarakat, yang membidani karya-karya itu, memotong ari-arinya dan memberinya susu, adalah ibunda Malin Kundang. Jadilah batu! kutuk mereka pilu. Tapi sebagaimana semua kutukan di bumi, kutukannya adalah untuk dirinya sendiri.

Kemana perginya para penikmat seni? Setelah malam pembukaan, dimana hidangan utamanya bukan para karya dan perupanya, melainkan tas mahal, koktail segar, serta tawar dan menawar, galeri-galeri mendadak sepi. Lengang karena judul pameran dan catatan kuratorialnya mengusir yang awam pergi.

2 komentar:

Muhammad Mishbah mengatakan...

pada menikmati kenikmatan yang lebih nyata, lebih pragmatis. hehe

salam kenal,
mishbah

Aidil Akbar Latief mengatakan...

haha gw sepakat juga kalo banyakan yg mencari kenikmatan yang lebih nyata, hahaha. yang terlihat, yang jelas nyata dan terhampar di depan mata bahkan belum memberi kepuasan ya buat kita. kenyataan aja dikomodifikasi dan dibungkus jadi tayangan tv.

apa kabar, mbah?

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief