Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Bicara Cinta

Mama

Mari bicara cinta.

Adakah yang lebih platonis dari cinta ibu pada anaknya? Sering saya lupa kalau cinta ibu pada anaknya sebenarnya tidak pantas divisualisasikan dengan empuk dan lembutnya selimut warna pastel a la iklan popok atau pelembut pakaian ditambah iringan musik mendayu. Visualisasi yang cocok adalah darah, kental dan merah, seperti ruang penjagalan di Rumah Dara, dengan iringan jerit menahan sakit. Proses melahirkan serupa perjalanan berjingkat diantara kematian. Dan merawat dan membesarkan sang bayi bukanlah tentang ruangan putih nyaman seperti di iklan sabun bayi, tapi tentang membersihkan pantat bayi yang belepot kencing dan tahi, pekik yang membangunkan di malam hari, dan segala cerca, hina, dan maki saat sang bayi mulai merasa mampu hidup sendiri. Hidup setiap manusia adalah cinta ibunya, yang karena diberikan dengan begitu susahnya, pantas diperjuangkan.

1 komentar:

Arimbi mengatakan...

"Hidup setiap manusia adalah cinta ibunya, yang karena diberikan dengan begitu susahnya, pantas diperjuangkan." aih aih. dahsyat. gw quote ya.

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief