Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Sesak

I

Kukira ini semua semudah meniti temali rajutan laba-laba. Betapapun tipisnya, setidaknya jalurnya teratur dan keloknya terduga. Terencana. Tinggal kucari saja peta.

II

Menerka ternyata bukan sekadar menyibak satu demi satu tirai asumsi: keterlemparan kita adalah teka-teki yang mesti kita pecahkan sendiri, dan teka-tekiku belum selesai kumaknai. Ia sendiri bahkan belum setengah jadi.


III

Lalu semua menjadi formula. Apakah tidak memilih adalah salah satu pilihan yang aku punya? Kalau tidak, bolehkah aku bersembunyi di toilet saja?

IV

Menyadari bahwa tanda tanya bukan penutup yang tepat untuk semua ini, aku menutup pintu dan tidur kembali. Untuk sementara, tulisan ini kuakhiri dengan koma

,

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief