Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Tentang Tahun Ini dan Tanggungan Kita

Sakti

Masyarakat Tontonan

Terima kasih, semuanya lima puluh ribu rupiah. Hidup adalah sekadar toserba. Anda suka, silakan ambil, bayar, sampai jumpa. Kita lupa: kita memiliki rentang kelapangan untuk melihat dari berbagai sudut, bukan dari muka layar saja. Kita punya kemampuan memakna, bukan sekadar membeli dan mengguna. Kita manusia, bukan belulang yang dilabel harga. Sapere aude! pekik Kant, membuka Zaman Pencerahan. Beranilah mengetahui. Semoga kita termasuk dari yang berani. Semoga kita berani berbagi.

Proses Menjadi

Masih sedikit yang kita ketahui. Kita sendiri belum selesai menjadi. Tapi keping yang aku punya dan keping yang kau punya, bila digabung, mungkin saja membentuk satu gambar besar yang bisa kita maknai bersama. Yang bisa kita bagi. Yang bisa saja menjadi bagian dari gambar besar mereka. Peta mereka. Atau sekadar cerita. Sebuah perspektif baru, setidaknya.

Menjadi Besar Atau Kecil Adalah Pilihan

Menjadi wahana mereka mengada, mungkin terlalu mengada-ada. Berlebihan dan sok pahlawan. Tapi pilihan itu ada di tangan kita: apakah ini akan berakhir seperti kisah Sisifus, atau sepotong narasi yang betapapun kecilnya, ada dan punya makna. Kita yang gores batasnya. Bersama-sama.

Setidaknya itu yang aku percaya.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief