Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Sebentar Lagi

2010

Sebentar lagi, kalian akan melihat betapa luas dunia. Bahwa ia bukanlah sebingkai kotak kaca. Ia adalah pengalaman yang harus kalian hayati dengan semua indera. Yang harus kalian dengar, hirup, coba, raba. Yang harus kalian hidupi dengan seksama.

Sebentar lagi, kalian akan menyadari: kelapangan dada, kerendahan hati, dan kemauan berbagi akan membawa kalian kemana saja. Dari meja makan fine dining di restoran gourmet ternama sampai meja kayu Gisin. Dari kerja desain multimedia di balik MacBook Pro sampai menyerut bambu di tengah malam dingin. Dari berbincang dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata sampai terbahak dengan pedagang telor asin.

Sebentar lagi, kalian akan memahami betapa kuatnya kepala, hati, dan tangan manusia. Banyak yang akan merintang, mencengkram, melepeh, menoreh... tapi kalian yang telah terlempar ke nadir lalu berdiri, pasti mampu mengatasi. Dalam pincang, perlahan, berjalan kembali. Sebentar lagi.

Sebentar lagi, kalian, yang berjalan tertatih dengan kecamuk imajinasi dalam kepala dan tangan yang letih untuk mengejawantahkannya, akan melihat sendiri: kalian begitu kuat, begitu hebat.

Berlapanglah dada. Berjalanlah dengan kepala merendah, namun tetap bangga. Sebentar lagi kalian akan tiba.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief