Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Setelah Sepuluh Sepuluh Sepuluh

Angka sepuluh sudah terlalu klise untuk saya tulis lagi. Pada akhirnya hari itu bukanlah tentang strategi budaya, pembelajaran hari tua, atau pengalaman berharga. Pada akhirnya hari itu adalah satu cerita. Yang bukan sekadarnya. Ia hadir. Masif. Menyambut. Ada. Tentang kekuatan khayal manusia. Tentang keteguhan hatinya. Tentang kemampuan tangannya. Dan bagaimana pengejawantahan itu semua merangkul, memeluk, menjadi sebuah noktah mungil dalam semesta. Sebuah ruang kecil dimana manusia membuktikan harkatnya. Lalu manusia menjadi elemen ruang yang paling utama. Cerita kecil ini akan terus meraung, menginterupsi, mengganggu saya. Semoga ia sedikitnya bisa berbisik halus pada siapapun yang sempat hadir di sana, pada hari itu. Bisikan halus, setidaknya, apapun itu.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief