Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Taksim

London, Istanbul, Jakarta, semoga tak ada lagi di kota selanjutnya, semoga tak ada lagi selamanya


Melawat ke negeri orang bukan sesuatu yang sering saya lakukan, namun sekali lagi, sebuah bom meledak di kota tujuan saya. Pergi berita duka dari rumah, tiba dengan dentum di atas tanah. Mengingat kembali tujuan kedatangan saya kadang membuat saya merasa hampa. Sia-sia. Toh hidup ini pendek dan dunia akan hancur pada akhirnya. Tapi saya adalah sedikit dari yang percaya, dan jika yang sedikit ini berkurang satu lagi... Dekan sekolah saya, Yasraf Amir Piliang, tentang subkultur dan gerakan-gerakan 'subversif', berkata, "Kalau masih ada yang bisa disuarakan, maka suarakan," Ya, sekarang saya ragu, amat ragu, tapi saya setidaknya saya bisa mereka masa depan--tidak, saya menulis masa depan. Saya punya harapan. Saya masih percaya. Saya individu, manusia merdeka, yang punya suara, bukan serpih segumpal massa.


Lawan dari ketakutan hanya satu, kita semua tahu.


Kita juga tahu lawan dari rasa benci itu.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief