Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Hidup

Gerimis. Di luar dingin. Duduk di sofa sembari minum secangkir teh panas manis. Ada telepon, ada yang meminta tolong. Malas sebenarnya, tetapi mesti. Kembali ke rumah. Serial favorit tayang di televisi. Lanjut marathon DVD film kesukaan sambil sesekali menyapa teman-teman di jejaring sosial. Cerita di film itu manis dan menyenangkan. Semoga saya tidak akan hidup seperti tulisan di samping ini. Saya tak ingin duduk nyaman, menyerah pada keberuntungan dan larut dalam yang telah silam di sudut hunian seperti seonggok benda mati. Saya tak mau bekerja setengah hati. Saya ingin melompat, terbang, menari, lalu berlari. Menutup bumi dengan jejak kaki. Menapaki kota-kota yang belum pernah saya datangi. Menyapa wajah-wajah yang asing sama sekali. Merajah tubuh dengan aksara yang tak saya mengerti. Saya ingin hidup untuk mengalami dan berbagi.

1 komentar:

Titis Andari mengatakan...

Tai. You need to always be in my life ya.

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief