Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Hujan Kata di Batas Senja

Senja tiba di ujung alinea. Aku ingin bersembunyi di halaman yang belum pernah kau buka, tapi halaman itu tak ada: kau adalah pembaca yang rakus. Hujan semakin deras. Kataku, bolehkah kita berteduh dulu sampai ia reda? Malah kau gamit tanganku, mengajakku melaluinya, tanpa payung, tanpa jas hujan, tanpa jeda. Lalu kubilang, aku ingin mencari pelangi meskipun senja itu ia hanya sekadar kata. Tapi kau ingin segera tiba di entah apa. Mungkin titik, mungkin koma, mungkin halaman terakhir cerita, mungkin daftar pustaka.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Mungkin kuakhiri dengan tawa? :)

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief