Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

İstanbul

Di halaman Aya Sofia, seekor camar membuang kotorannya di kepala saya. Selamat, kamu baru mendapat jimat keberuntungan, kata kedua teman Turki saya dengan senyum lebar. Nyaris kesal karena kotoran di kepala, saya malah terbahak mendengar mereka. Bukan hanya berdiri di dua benua, kota ini berdiri di dua masa. Betul, mobil-mobil canggih lalu lalang, kereta listrik dan kereta bawah tanah berlintasan, dan butik-butik mahal yang bisa anda lihat juga di New York dan Los Angeles bertebaran. Namun hanya di sana, saya pikir, sayup azan bersimfoni laras dengan hip-hop lokal. Hanya di sana penjaga toko buku memberikan secangkir teh apel panas pada setiap pengunjung yang datang, tak peduli mereka membeli atau sekadar melongok jendela pajang. Hanya di sana Marlboro dijepit di tangan kiri sementara tasbih berayun di tangan kanan. Hanya di sana, beberapa langkah dari kafe-kafe dan bar temaram, terdapat makam seorang sultan agung dimana doa-doa tak henti didaraskan. Huzun—rasa murung—boleh merundung, namun kota itu, yang telah berkali jatuh, lalu bangkit lagi, terbiasa menatap ke depan, bertanya, lalu apa sekarang?

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief