Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Sukarela

Sering kita menghargai sesuatu karena kerapuhannya. Nyawa misalnya. Atau perdamaian dunia. Atau hubungan antara sepasang manusia.

Sering, yang terlihat begitu rapuh rupanya tegar dan perkasa.

Seperti kata Neil Gaiman, dalam kumpulan kisahnya, Fragile Things:

“As I write this now, it occurs to me that the peculiarity of most things we think of as fragile is how tough they truly are. There were tricks we did with eggs, as children, to show how they were, in reality, tiny load bearing marble halls; while the beat of a butterfly in the right place we are told, can create a hurricane across an ocean. Hearts may break, but hearts are the toughest of muscles, able to pump for a lifetime, seventy times a minute, and scarcely falter along the way. Even dreams, the most delicate and intangible of things, can prove remarkably difficult to kill.”

Manusia boleh terlihat rapuh dan lemah. Manusia bisa dengan mudah kehabisan tenaga, menghilang dalam kejenuhan rutinitas kesehariannya, terputus dari kesadarannya akan dirinya sendiri, dan akhirnya kehilangan makna. Ia menjadi sekadar roda gigi dalam suatu mesin raksasa. Namun ia bukannya tak berdaya. Manusia, samudera, dan bintang kejora menyerpih dari ledakan yang sama. Manusia bisa sama perkasanya dengan mereka. Ketika manusia bersungguh menggunakan tenaganya, secara sadar dan sukarela, ia menjadi ada yang bermakna. Ia menjadi begitu kuat dan begitu banyak perubahan yang bisa ia perbuat.

Saya melihatnya dari layar kaca. Di Jepang: saat para relawan setempat bekerja tanpa lelah membantu mereka yang selamat dari bencana gempa. Di Bali: saat seorang pria biasa tergerak membopong dan menyelamatkan tubuh-tubuh yang bergelimpangan saat bom meledak. Di Kalimantan: saat seorang lulusan akuntansi dari sebuah perguruan tinggi negeri ternama malah menghabiskan waktu di dusun sebuah pedalaman, mengajar anak-anak di sekolah reyot.

Saya melihatnya di depan mata, di yayasan dimana saya bekerja: mereka, yang berambisi begitu tinggi, yang ritme hidupnya begitu cepat dan padat, membagi waktu dan tenaga untuk menyentuh, menginspirasi, dan membantu mereka yang lebih muda untuk pergi ke luar negeri, belajar dan menyentuh banyak orang, membangun persahabatan, lalu kemudian kembali dan terus berbagi inspirasi.

Sukarela begitu kuat dampaknya karena ia berangkat dari kesadaran—dari keinginan, bukan kebutuhan, yang diejawantahkan menjadi kerja. Secara sadar ingin—suka—itulah kuncinya. Karena suka, maka pelakunya rela.

Bagaimanapun, manusia dan segala kemampuannya, ada batasnya. Manusia bukan mesin dengan energi tak terbatas. Batas itu—kerapuhan itu—yang membuat kerja sukarela seseorang berharga. Menunjukkan sesuatu yang di zaman sekarang begitu sulit dipercaya, begitu langka, begitu rapuh: harapan.

Sangat mudah untuk mengeluhkan kondisi diri dan keadaan dunia hari ini. Pilih saja dari sekian banyak media yang ada untuk menyerapah di dunia maya. Berapa banyak dari kita yang menyadari, kita punya diri ini: kepala, tangan, dan kerelaan hati, yang sebenarnya bisa berdiri, bergerak, dan melakukan perubahan, betapapun sedikit, betapapun renik?

Untuk semua sukarelawan di dunia.

1 komentar:

Titis Andari mengatakan...

Yailah, kita kebanyakan bergulat di arena dan tataran kesadaran yang sama:

http://canere-surdo.blogspot.com/2011/04/tetap-muda.html

http://canere-surdo.blogspot.com/2010/12/pandu.html

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief