Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Hari Matahari

Lelah aku mendengar firman tentang keagungan dan kemuliaanmu: dengan mata dan telingaku sendiri kusaksikan aib dan kejatuhanmu. Tapi kau tetap dan selalu ada disini. Kasihmu bukan temaram purnama. Kasihmu adalah lidah api matahari. Bara dan cahaya yang membakar perih tetapi juga memberi. Yang membinasakan tetapi juga menumbuhkan. Gravitasimu. Kau mengajariku jatuh lalu berdiri. Kau mengingatkanku akan kejatuhan manusia. Bahasa adalah jurang kita, tapi pijarmu menjembataninya. Betapapun sakit, betapapun aku benci, betapapun kuingin kau mati, kau tak berhenti menjaga dan menemani. Tak berhenti ada. Terima kasih. Terima kasih untuk terangmu, yang mengenalkanku pada luka, dan juga pada dunia dan keindahannya.

1 komentar:

yermi mengatakan...

yang ini gw suka yang musa jugaa

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief