Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Musa, di Bukit Nebo

Empat puluh tahun menjelang. Ada yang menghampiri, ada yang pergi, ada yang kembali, ada yang datang, ada yang hilang. Bulir telah kukumpulkan. Benih telah kusebar. Ada yang meranggas, beberapa mengakar.
Akankah kalian terus hadir?
Akankah kalian berhenti meragu, dan berjalan bersamaku?
Akankah aku merelakan kalian,
keluar jalur sementara waktu, sekadar untuk mengingat kembali keajaiban pulang?
Akankah setibanya di tanah yang dijanjikan, kita menyerah pada keseharian dan membiarkan lupa memisahkan kita?
Akankah aku merelakan kalian,
satu persatu tumbuh dan bermetamorfosa?

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief