Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Guru

Ingatkan aku, guru-guruku, untuk tidak berhenti menghayati.

Kau, yang tidak menyambut kepulanganku dari lintang beku. Di bangku taman, sore itu, kau asyik mendengkur. Mulutmu basah oleh anggur. Kata-katamu ngawur. Toh aku tak mendengarnya. Karena kau bukan kata. Kau adalah mata. Yang melihat yang terlewat dan terlupa, yang luput dan nyaris hanyut.

Kau, negasi sekaligus afirmasi, tanda baca yang tak ada. Mungkin hanya koma yang mendekati, tetapi tidak juga. Merangkummu sama seperti menulis sembari berlari--atau, boleh jadi, sama seperti menulis kata 'tetapi'. Kau menatapku ragu di koridor siang itu. Dan ragumu adalah pelajaran pertamamu untukku.

Cermin retak; refleksi/refraksi/redefinisi/rekonstruksi/dekonstruksi. Aku ingat, pagi itu kau menyapaku dan kita berkenalan lewat lelucon yang tak lucu. Kita menyerpih dari bintang yang sama, dari galaksi yang sama. Tapi menatapmu sekilas saja membuatku mengerti bahwa ada bukan hanya yang kasat mata.

Kelapanganmu adalah perpustakaanku--hamparan luas yang kau pagari sendiri. Kau adalah tanda tanya, bisik, dan gerutu parau yang membuatku belajar mendengar. Kau selalu menyuruhku pulang saat petang menjelang--dengan janji: esok hari, akan ada buku baru saat aku kembali. Dan kau selalu menepati janji.

Aku bertemu denganmu dalam lelucon murahan. Kau adalah kejutan ulang tahun yang terlampau besar--terbungkus kertas yang dicabik serampangan dari majalah mahal--seakan menyembunyikan sesuatu yang banal. Kau adalah gagasan sekaligus distraksi akbar; kebaruan sekaligus kenyamanan keseharian yang selalu hadir dan tidak hilang.

Kau, yang hadir dan memberiku jawaban. Garis putus-putus yang membentang antara terang dan gelap; notasi tak sempurna dari peta yang batasnya kita buat bersama. Pembuka pintu, atlas; perjalanan adalah rumahmu. Pikir dan laku yang gestalt, utuh, satu. Berkas cahaya yang tak hilang saat malam menelan terang.

Kau, teka-teki yang tidak ingin aku pecahkan hari ini. Ingat aula megah itu?



Terima kasih yang tak terhingga.

1 komentar:

yermi mengatakan...

follow balk dil! hahahaha!

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief