Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Memento

Yang kutakutkan hanya satu: lupa. Akan diriku, kejatuhanku, dan kekal Tuhanku. Hidup di semesta tanda yang menandakan tanda lainnya, makna semakin pudar, ia menghilang... Aku takut lupa, dan butuh pengingat akan Ada.

Sementara akses pada mereka yang kuanggap guru belum tertutup, aku akan ingat. Tapi mereka semua juga berjalan, mencari, menjadi. Bergerak menuju Ada. Satu saat pikiran kita mungkin berjarak sedemikian jauh, sebegitu tak terjangkau.

Aku butuh pengingat yang tetap. Yang berada padaku. Yang ikut tumbuh bersama tubuhku, namun tak akan keruh oleh pikiranku. Hadirnya adalah tanda kepemilikan atas tubuhku dan pikiranku dari hegemoni siapapun selain aku--namun ia bukan tanda kuasaku, melainkan pengingat batas dan kelemahanku.

Kutemukan ruang yang tepat: Tulang selangka. Sementara satu ujungnya mudah terlihat, ujung lainnya tak terjangkau mata (Terima kasih, Shinichi Kudo).
Titik sembunyi sekaligus tempat menampakkan diri.

Maka kubiarkan luka membuka, kupersilakan perih merobek kulitku, dan sakit menumbuk tulangku.

s o r g e,

Tanda pengenang, selamat datang.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief