Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Galt Tertawa

Barangkali sebabnya obyektivisme Rand seringkali dipandang sebelah mata adalah karena, seperti agama, ia masih mencoba mengkodifikasi rasa--namun ia terlambat 4000 tahun dari Musa kala ia menatah getar perjumpaan dengan Tuhan di tablet batu! Memandang dari lantai 94 John Hancock Center, 1000 kaki dari permukaan jalanan Chicago senja itu, saya bergetar kagum, dan entah bagaimana, bangga, pada manusia, yang akal budi, kekuatan hati, dan kerja tangannya, mampu menggubah baja dan kaca menjadi konstruksi sedemikian megah di muka bumi. Saya pikir, John Galt, manusia ideal Rand, tak akan suka dirangkum menjadi -isme baru--bukankah paham itu diamini suatu kolektif, sementara Galt adalah individu yang sungguh merdeka? Mungkin Galt, seperti juga Howard Roark di awal buku The Fountainhead, akan tergelak membaca usaha Rand. Saya rasa, rasa selamanya tak bisa diatur dan diberi struktur.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief