Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Jati

Ada yang aneh dari kusen jendela rumah makan itu. Bercat putih, seperti balok kayu murah, tapi teksturnya khas sekali. Khas kayu jati. Aku penasaran. Rupanya benar. Ia kayu jati asli, yang entah kenapa masih didandani. Padahal tak tampak cela, lubang-lubang rayap, atau apapun juga. Aku tertawa.

Kesejatian. Berapa dari kita yang pernah mencecapnya? Sebuah material, sebagai dirinya? Sebuah gagasan, yang murni, mendasar, sederhana? Seorang manusia, seutuhnya? 


---


Aku cinta kota. Tinggalkan aku seorang diri di Timbuktu, Yogya, Kathmandu, atau Athena, dan aku akan baik-baik saja. Aku menikmati tenggelam dalam lapis demi lapis tanda. Labirin hyperlink tak berujung dari satu imaji ke imaji lainnya, dari satu gagasan ke pemikiran entah siapa. Ruang interior adalah habitatku. Manusia kota adalah kawananku. Di sini aku terlindung dari matahari, langit, angin... buatku mereka asing, liar, menakutkan.


Namun, melihat kembali pendakian gunung pertamaku, kutemukan apa yang sebelumnya aku tak pernah tahu. Di Gunung Egon, gunung berapi di Flores yang jarang dijejaki manusia itu, aku menduga, telah kutemukan makna kesejatian.


Mendekati puncak, vegetasi yang tadinya rapat mendadak lenyap. Terik matahari seketika menyergap, tubuh dan pakaianku terbasuh keringat. Lalu aku menyadari: bahkan pijakan kaki sendiri tak dapat dipercaya lagi. Kerikil-kerikil kecil bergulir begitu cepat, mengalir bahkan, siap menggelincir dan membawa serta tubuh yang lelah dari berjam-jam pendakian.

Aku berpijak pada kaki-kaki kuyu dan kurus, yang berdiri di kerikil dan pasir halus, yang terus menggerus, menggelincir seperti arus, tanpa pegangan selain patahan dahan yang kutemukan di kaki gunung saat berangkat, sementara di kananku tebing menganga, di mana elmaut siap menjemput. Tak ada yang bisa kulakukan selain terus mendaki. Maka aku terus mendaki. Kembali ke bawah sendiri bukanlah opsi. Tim kami harus selalu bersama. Dan bersama bukan sekadar nilai tambah, atau romantika murahan, tapi kebutuhan. Kami butuh kebersamaan untuk saling jaga, untuk bertahan.

Di sana, tak ada tanda buatan. Aku tak mengenal apa yang kujejak, apa yang kulihat. Tak ada bahasa. Tak ada kata. Hanya naluri dan kuasa alam.

Dan kekuatan manusia: keutuhannya, kesatuan akalbudi dan tubuhnya.

Dan mungkin, kesejatian.

---

Siapa yang bisa kugugat perihal celapuk putih di kusen jati itu? Sang desainerkah, atau pemilik rumah makan? Apa yang sebenarnya sedang kugugat? Maksud dari sang perancangkah, yang tak murni? Atau jati itu sendiri yang tak tampak sebagai 'jati'? Mengapa aku menggugatnya? Pertanyaan, penjelasan, jawaban, alasan, kata-kata... Segalanya memberi jarak dari kebenaran, dari 'ada'. Aku terdiam dan kemudian menyadari, betapa jauh kita dari kesejatian. Dalam keseharian di kota, yang murni, yang asli, yang jujur, yang sejati, mungkin memang sudah tak diterima lagi. Dan, sedihnya lagi, aku sejujurnya tak bersedih hati. 

1 komentar:

Titis Andari mengatakan...

"Can a mere human brain stands the stress and the strain that were strictly designed for birds?
When a man's face to face with remote outer space, is he likely to chirp or use words?

Will he hanker and yearn for a rapid return to the home of his kith and his kin?
Or, when gravity snaps, will this unwonted lapse send him straight to the great lunar bin?"

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief