Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Suaka

Saat ini, di sebuah distopia bernama _________

I

Aku adalah satu dari yang seringkali merasa, negeri ini tak lagi ada.
Tepislah asap bakaran sampah tetangga yang menghalangi matahari pagi bercahaya, dan berjalanlah di jalan-jalan kota yang sudah tak jelas milik siapa.
Kalau kau selamat hingga ujung jalan, kau akan paham yang kubicarakan.
Jika negeri ini sungguh punya harapan, aku adalah satu dari yang lelah percaya. Begitu sedikit yang bisa kubagi, yang malah membuatku makin kecil hati.
Bukannya tak ada pilihan buatku: bisa saja aku pergi. Bisa saja kuselesaikan ceritaku di tempat ini. Tinggalkan rumah. Selesaikan sebabak sejarah.
Tapi beranikah aku melupakan mimpi-mimpi yang membuatku terjaga dan
memberiku alasan untuk terus bergerak
--mencari terang?
Lalu aku mengingat kembali: negeri ini adalah teka-teki untukku sendiri. Sebuah gelisah yang tak akan sudah. Pantang aku pergi sebelum pecah teka-teki ini.

II

Ketimbang bilang pada adik-adik kita kalau negeri ini dulunya kaya raya, pernah makmur jaya (macam toko bangunan di belakang jalan), mari katakan dengan terang:
            ‘Rumah kita belum rampung. Yuk, kita bangun.’
Sadari: negeri ini bukan senarai mitologi, tapi lembaran kosong yang terbentang, menanti ditulisi, ditentang, ditulis ulang. Mari.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief