Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Setelah Amuk Reda

Apakah puteri seorang pelacur berhak menuntut ibunya karena melahirkannya ke dunia? Paradoks keniscayaan adalah bagaimana ia membatasi tetapi juga membebaskan. Membebaskan, karena dengan menerima, dan bukan memilih, kita terbebas dari beban biaya kesempatan yang muncul karena pilihan yang salah. Apakah artinya saya menerima dengan lapang dada segala yang dibebankan pada saya begitu terlahir di Indonesia oleh seorang ibu berkewarganegaraan Indonesia saya belum tahu. Mungkin pada akhirnya saya akan menerima, mungkin tidak. Tapi hari-hari ini, setidaknya saya tak lagi menganggap stempel 'Indonesia' di dahi saya sebagai sebuah kutukan, tapi sebuah kemungkinan.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief