Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Epik

Pagi ini juga, kau terlahir di tubuh yang lain lagi: telah kau mampatkan memori dalam paket-paket kecil untuk kau kirim lewat TIKI. Meski kau meminta--entah pada siapa--bahwa hari ini adalah sesuatu yang lain, kau tahu pasti, pagi bukan selarik puisi. Ia pasti kembali, ia bukan penanda apapun: tanpa makna, sebagaimana juga kau. Enam milyar jiwa lainnya menulis (atau menanti) narasi mereka sendiri: lalu siapa pembaca enam milyar kisah ini? Tapi kehampaan tanpa dasar adalah latar suatu lakon yang teramat megah! Seorang figuran juga berhak melihat namanya di buku program: manusia tak akan pernah bisa direduksi menjadi angka! Dan siapa pembaca yang lebih hebat dari sang penulis cerita? Toh hidup bukan proyek penulisan kitab suci. Manusia sudah punya terlalu banyak nabi. Maka kau menggeliat pagi ini, dalam tubuh barumu, menangkap gejala, menakarnya dalam puisi, mengganjarnya dengan makna, lalu kau coba bagi.

Tanda bisa banal. Tapi kenyataan selalu mengagumkan. Apakah tanda bisa jujur? Adakah kebenaran puitis? Ketika kekaguman kau evaluasi dan coba rasionalisasi, kau sadar, saat itu rasa melipir, pergi.
Kekaguman yang gagal direngkuh menara-menara masjid dan gereja, berhasil bersembunyi dengan manis dalam laporan NASA, dalam foto-foto migrasi Gajah Afrika, dalam cerita dan puisi, dalam lukisan dan instalasi, menanti: seorang pelihat yang memberi arti.

Halo teman-teman baru!

2 komentar:

sutansyah marahakim mengatakan...

Terjepit pintu. Ditanya kabar jawabnya santai saja, 'I am content'.

Menarik sekali teman baru itu.

a.a.l. mengatakan...

Saat tubuh sudah mati rasa, yang tersisa cuma 'contentment' saja

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief