Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Alibi

Ruko dua lantai itu dingin, lembab, dan gelap. Meski saat ini sesak oleh manusia, tapi yang terdengar hanya bisik-bisik saja. Seorang petugas forensik berjalan perlahan menuju Sang Detektif, yang berdiri tegang di tengah ruangan. "Kami tak bisa menyimpulkan apa-apa," katanya. Sang Detektif berang. "Satu setengah jam dan kalian tak menemukan apa-apa! Sungguh divisi tak berguna!" ia membentak. Dengan langkah menghentak, Ia kembali ke lantai dua, ke ruang kosong tempat ia menemukan jenazah istrinya. Ramai. Garis polisi sudah dilepas. Ia masuk dan mengamati sekelilingnya. Petugas kepolisian dan warga melingkari dan menatapnya.
"Pak... Sudahlah..."
Inspektur Gendut itu mencoba menenangkan Sang Detektif.
"Aku ingin melihat jenazahnya sekali lagi!  Kali ini aku akan menganalisis sendiri!"
"Pak..."
"Bawa aku ke Lab Forensik sekarang!"
"Pak! Kalau bukan karena anda yang menelepon dan melaporkan perkara, kami akan menyangka telepon tadi main-main belaka!"
Kalut, Sang Detektif menggelengkan kepala. Wajahnya terlihat kebingungan. "Apa maksud anda?"
"Tak ada jenazah ditemukan di ruangan ini sore tadi. Kau mungkin berhalusinasi."
Inspektur Gendut itu meletakkan tangannya di bahu Sang Detektif, yang menganga mendengar penjelasannya. "Istrimu meninggal setahun lalu, ingat?" katanya lirih. "Semua orang suka Lara. Aku yakin, pasti sulit melepaskan, apalagi melupakannya. Pulanglah. Kau tampak lelah. Istirahatlah."
Sang Detektif terhuyung. Dengan sigap Inspektur Gendut itu menahan tubuhnya. Mereka saling tatap. Sang Detektif mengangguk kecil lalu berbalik arah. Sembari menunduk, ia berjalan pulang. Sembari menunduk, ia tersenyum lega. Hidupnya aman untuk sementara.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief