Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Lepas Landas

To say good-bye is to deny separation; it is to say Today we play at going our own ways, but we'll see each other tomorrow. Men invented farewells because they somehow knew themselves to be immortal, even while seeing themselves as contingent and ephemeral.”--Jorge Luis Borges

Tahu rasanya melepas pelukan? Pelukan, yang bukan sekadar pelukan, tapi pelukan yang mengangkatmu, yang menghangatkan, menyembuhkan, menawar dukamu, yang menyelamatkanmu… Tahu rasanya melepasnya?

Aku tidak ingin mengingat-ingat, tapi terlambat: keluar dari pintu itu, seketika mata mengabur dan memori menghambur; dinginnya malam dan hangatnya kalian. Aku yang meredup menjadi Kita, yang menyala demikian terang hingga sering menyilaukan. Aku tidak ingin terus menoleh ke belakang, tapi bagaimana bisa kuredam: bagaimana rasanya menjadi bagian dari sesuatu yang besar. Begini rasanya dibutuhkan. Begini rasanya, tak perlu mengharap konfirmasi, apresiasi. Begini rasanya dimengerti. Begini rasanya diterima. Lalu kita melihat, mendengar, menyentuh, menghidu, merasa. Belajar menjadi. Bersama. Menertawakan kejatuhan. Terombang di ambang. Terbakar gagasan. Hancur lalu mereka ulang. Mabuk dalam kerja. Menyesap Ada.

Megah ya kesannya. 

Padahal yang kumaksud adalah obrolan-obrolan kecil di penghujung malam, di batas kesadaran. Basa-basi sambil ngopi yang kelamaan jadi mengasyikkan. Debat-debat tanpa konklusi. Tentang Manusia, berlagak filsuf Yunani. Tentang Tuhan, seakan kita ini nabi. Tentang dunia, perang, budaya, seni: padahal, tentang semua itu, siapa juga yang sungguh mengerti. Ujung-ujungnya curhat masalah istri. 

Padahal maksudku adalah hal-hal sederhana, yang ditawarkan keluarga ini secara cuma-cuma: segelas air, yang anehnya bisa menihilkan lelah. Obrolan kosong yang tanpa arah, tapi selalu membuat hati cerah. Atau tepukan kecil di bahu, yang entah mengapa menguatkan. Atau kiriman gambar lucicu di layar ponsel. Atau marah yang tertumpah. Atau gengsi yang kemudian kita sesali. Atau maaf yang tulus di akhir hari. Atau semua laku bodoh kita. Atau setiap rahasia yang kita jaga. Atau kata yang bertahun-tahun tertahan, tak terucapkan. 

Fast forward: empat setengah tahun menghayati keseharian sebagai Kita. Yang aku sadari sekarang: rentang itu rupanya tak cukup untuk menambang keajaiban kita. Maka maaf jika semua yang kuhirup menjadi 'kita' tak mungkin bisa kukembalikan kepada 'kalian'. Jangan berduka, kata mereka. Jangan sedih karena ini hanyalah awal mula, kata mereka. Tapi mereka tak tahu rasanya. Mereka tak akan tahu.

Aku tahu rasa, bagaimanapun kuatnya, bagaimanapun menjejaknya, pasti memudar, lalu mungkin sama sekali hilang.  Namun sekarang, aku ingin meyakinkan (atau membohongi?) diri bahwa rasa ini selamanya, bahwa kita akan selalu hadir untuk satu sama lain, meski mungkin tak di depan mata, dan bahwa di suatu simpang jalan di masa depan kita semua pasti bertemu lagi. Iya kan. Iya kan?

Yang aku percaya, dan satu-satunya yang pasti: esok adalah narasi yang kita tulis sendiri. 

Selamat lepas landas, teman-teman. Semoga kelak kita bertemu lagi. Semoga kita tak akan pernah berhenti menjadi.

2 komentar:

Titis Andari mengatakan...

Ini :') dan jujur sekali. Kangen.

Alif Muhammad Reza mengatakan...

Nice

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief