Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Terima Kasih Malam

"You, darkness, that I come from / I love you more than all the fires / that fence in the world / for the fire makes a circle of light for everyone / and then no one outside learns of you..."

Terima kasih Malam, untuk suaka dari dunia yang berlari. Terima kasih untuk arah pulang, yang masih aku coba pahami. Untuk menjadi ruang bagi yang menanti, yang sementara ada kemudian pergi, yang kembali, yang tak kembali, yang urung berbagi, yang sudah, yang belum, yang menuntut, yang membela, yang membalas, yang kecewa, yang bangkit, yang tertatih, yang tertawa, yang terjaga kemudian berdoa, yang mempertanyakan lagi. 

Terima kasih Malam, untuk tungkai yang gontai. Terima kasih untuk nyala kembang api, untuk legitnya dosa dan perihnya menjadi dewasa. Untuk desah di atas ranjang yang bergoyang, memburuNya, mencari Ada, mengais makna. Untuk resah, yang semoga tak pernah sudah. Untuk tubuh yang bertaut, menyambut setiap stimuli, setiap sensasi--menghayati hidup adalah juga menyongsong mati. Untuk lelah, untuk gelisah. Untuk kesatnya lidahmu, untuk pencarian arti, untuk pekatnya kopi, untuk sapaan Sang Niskala; untuk hangat, yang menguar dari kepulan asap, segelas anggur, setenggak vodka, atau pelukan sahabat.

Terima kasih Malam, telah menjadi persinggahan bagi kami: pencilan populasi. Terima kasih telah menyelubungi semua rahasia. Terima kasih untuk hitam yang melingkar di mata, dan hitam yang merajah selangka, menjadi penanda. Terima kasih untuk penipuan besar bahwa kita akan muda selamanya.

Terima kasih Malam, untuk janji bahwa Pagi pasti kembali.

"...I have faith in nights."--Rainer Maria Rilke

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief