Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Alkisah

Sahabat saya baru saja bercerita tentang apa yang ia rasa dengan menuturkan ulang sebuah adegan dari anime Neon Genesis Evangelion.

Yang membuat saya jatuh cinta pada film The Imaginarium of Dr. Parnassus adalah gagasan yang tampil hanya beberapa detik saja: bahwa ada sekumpulan pertapa yang tak henti menuturkan cerita untuk menjaga keberlangsungan semesta.
Saya percaya bahwa gagasan itu berlebihan namun ada benarnya: bahwa kemanusiaan kita dijaga oleh cerita. Berabad-abad kita menjelaskan asal muasal dan peran kita di dunia lewat mitologi dan kitab suci. Kita menyandarkan legitimasi keberadaan kita pada narasi-narasi, yang mungkin berdasarkan fakta namun berubah karena proses historiografi.
Bercerita adalah cara masyarakat Nusantara dan masyarakat-masyarakat pramodern di seluruh dunia menjelaskan segala hal, dari penciptaan hingga tabu pergaulan. Bercerita tak hilang bersama rasionalisasi: bercerita adalah penyintas modernisasi yang tak henti memperbaharui diri.
Cerita fiksi, bagi saya, adalah cara menyampaikan suatu gagasan yang tak selesai, sebuah ideal yang tak eksak, yang akan digenapi oleh pendengar/penonton/pembacanya, lewat perasaannya, pengalamannya, atau pengetahuannya. Sementara data dan fakta mestinya tak terbantahkan hingga akhirnya diperbaharui, fiksi disebut "fiksi" (dari kata Latin fictio, "pernyataan buatan") karena ia mengakui dengan jujur bahwa ia adalah buatan, sesuatu yang subyektif, dan karenanya memberi kesempatan hadirnya multi-interpretasi dan membuka ruang diskusi. Ia tak perlu diuji, ia sebenarnya tak butuh legitimasi dari catatan kaki, ia sesungguhnya bisa berdiri sendiri. Fiksi bisa menangkap zeitgeist yang kini dan memproyeksikan yang nanti. Fiksi bisa menghibur, menantang, menenangkan, atau mengusik hati. Fiksi memberi jarak untuk memandang lalu kemudian memahami keseharian. Seperti yang dilakukan sahabat saya, yang tak pandai mengungkapkan perasaannya, karakter dan alur fiksi adalah media bertutur ulang tanpa banyak menggunakan ajektiva. Lebih dari itu semua, fiksi mengajak kita berempati.
Yang menyedihkan bagi saya adalah hari-hari ini, ketika bagi banyak orang Indonesia di generasi saya, cerita tak lagi dilihat sebagai unsur penting dalam kehidupan mereka. Jelaslah sebabnya: orang tua kami adalah angkatan-angkatan kerja pertama yang hijrah ke kota dengan berbekal cerita para wali dan kisah Ramayana serta Mahabarata di hati mereka, namun setiba di kota terlalu sibuk membangun rumah lantas tak sempat berbagi dengan kami. Kami yang belajar di sekolah dan universitas negeri tak pernah diajari mengapresiasi fiksi. Sebut berapa banyak penulis cerita atau sutradara yang disebut "sukses" di mata masyarakat kita. Tak heran jika fiksi dianggap hiburan ringan belaka, atau malah ancaman produktivitas yang berbahaya karena membuat orang terlalu banyak berkhayal dan tak mau bekerja (ingat pernyataan presiden kita yang mirip Papa Nobita tentang game, salah satu media bertutur fiksi?).
Maka "cuplikan-cuplikan realita yang tak utuh" -- rumor, jurnalisme hiperbolis, dan kawan-kawan mereka -- mengambil alih peran "fiksi yang sesungguhnya", fiksi yang sepenuhnya dan secara sadar dipahami sebagai "cerita yang tak nyata".
Lihat bagaimana buku-buku pengembangan diri dan biografi "orang sukses" yang dikarang penulis komisi laris manis di toko-toko buku di Indonesia. Lihat bagaimana masyarakat kita meniru tanpa malu-malu. Lihat: betapa kita percaya "kesuksesan instan", betapa kita miskin imajinasi, bagaimana kita menerjemahkan kesuksesan ke dalam angka, betapa kita sekuat tenaga mengejar ideal yang terpatri pada sosok-sosok selebriti dan benda-benda yang mereka miliki, dan bagaimana kita memahami hubungan antarmanusia sebagai sebentuk transaksi.
Ini menyedihkan buat saya, karena kini yang "ideal" dengan mudah diterjemahkan menjadi "material" dan keseharian menjadi begitu banal. Sementara di negeri lain, buku, teater, film, tari, game, dan media bertutur fiksi lainnya berkembang sebagai industri dan tak jarang memicu perkembangan filsafat, budaya, dan teknologi; anak-anak diajak menikmati buku cerita dari usia begitu muda; para remaja berbagi film yang menyentuh mereka; dan sepulang kerja, orang-orang dewasa berdiskusi tentang buku yang baru mereka baca... Di sini, referensi kita terbatas pada asumsi kita tentang "realita", dan imajinasi kita terpasung di dunia nyata. Lantas apa beda manusia Indonesia dengan roda gigi belaka?

1 komentar:

Anonim mengatakan...

ogt ok de sip

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief