Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Meretas

"...the individual is defined only by his relationship to the world and to other individuals; he exists only by transcending himself, and his freedom can be achieved only through the freedom of others. He justifies his existence by a movement which, like freedom, springs from his heart but which leads outside of himself." -- Simone de Beauvoir, 1948, The Ethics Of Ambiguity

Tanpa Anda, adakah Saya?

Saya kira menjadi pengamat yang sekadar mampir dan melihat-lihat saja itu cukup. Saya pikir menyaksikan berbagai fenomena interaksi manusia dan menganalisisnya dari setumpuk teori yang telah Saya baca itu memuaskan. Mungkin saya takut terluka. Mungkin saya tak peduli manusia lainnya. Hingga Saya menemukan... Yang Lain yang tak sekadar menatap balik, tapi menembus batasannya, melepaskan penilaiannya, mencapai Saya. Teman-teman, yang sama seperti saya, sebelumnya juga sekadar mengamati, sembari menyembunyikan Diri mereka yang Asli. Yang Sejati.  Diterima. Pertemuan antara Saya dan Mereka, yang sama-sama hadir tanpa predikat, sama-sama apa-adanya, ternyata, adalah rasa yang luar biasa hebatnya, yang menyadarkan Saya betapa berharganya, betapa beruntungnya menjadi manusia. Namun kecenderungan kita, manusia, adalah menahan momen-momen yang berarak lalu. Maka kita terluka ketika momen-momen tak bisa direka ulang. Dan momen itu--kairos, saat yang khusus dalam waktu--tak bisa diciptakan: ia hadir manasuka sebagaimana kita terlempar.

Hari-hari ini Saya belajar untuk menyeimbangkan: antara menilai dan mengalami, antara mengritisi dan menghayati, antara menahan dan melepas genggaman. Tidak gampang dan sering menyakitkan. Yang saya tahu, Saya tak mau cuma menjadi penonton lagi. Momen-momen seperti ini adalah salah satu alasan mengapa Saya terus bergerak, berjalan, mencipta, hidup di dunia.

"In an I-Thou relationship two people are engaged in a genuine relationships. There is a mutual risk involved here. This risk involves the possibility of being hurt. If a person doesn't share their 'authentic self' and gets rejected, it hurts. But if a person shares their genuine self and is rejected, it hurts much more. The I-Thou relationship lives in this greater risk to receive the greater rewards.-- Louis Hoffman, menerangkan konsep I-Thou yang diajukan Martin Buber. 

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief