Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Amor Fati

Seperti banyak figur yang pantas dikenang, Herakles menjadi pahlawan karena tindakan yang terlihat bodoh dan pilihan-pilihan yang bisa jadi salah.

Saya menyaksikan heroisme Herakles bukan saat ia mengalahkan monster-monster buas dengan perkasa. Saya menyaksikannya di kisah yang teramat sederhana, hingga banyak penulis luput mencatatnya: saat Ia memilih untuk menjadi manusia.

Di masa muda Sang Pahlawan, dua dewi, masing-masing personifikasi Kenikmatan dan Kebaikan, menawarkan berkat mereka: hidup panjang yang indah dan bergelimang kenikmatan, atau hidup agung yang diraih lewat cobaan. Herakles—putra sang mahadewa Zeus dengan perempuan biasa itu—memilih yang kedua, berikut semua konsekuensinya. Berbekal kekuatan dan kebijaksanaannya yang melebihi manusia biasa, Ia memilih jalan yang tak lempang. Adegan itu, kesadaran penuh dari seorang putra dewa bahwa keagungan adalah sesuatu yang mesti direngkuh dan bukan diberikan cuma-cuma, adalah momen luar biasa yang menjadikannya agung di mata manusia maupun dewa. Ia jatuh dan bangkit karena pilihannya.

Maka Herakles mengalami kemenangan dan kekalahan—siklus yang serupa dengan semua manusia, hanya saja, dalam skala yang sejalan dengan takdirnya sebagai setengah dewa. Yang berarti, meski pencapaiannya demikian gemilang, tapi kesalahan—dan kekalahan yang menyertainya—juga begitu mengerikan. Ingat bagaimana di penghujung hidupnya, tubuh Herakles koyak karena kesalahan kekasihnya, hingga kematian menjadi satu-satunya jalan keluar deritanya. Tragis, mengingat Herakles selamat dalam semua laku kepahlawanannya, namun harus memohon-mohon pada sahabatnya untuk membakarnya hidup-hidup dan mengakhiri sakitnya. Atau bagaimana Herakles dikutuk oleh ibu tirinya, Hera, yang begitu cemburu padanya, hingga sesaat Herakles gelap mata hingga tega membantai anak-anaknya.

Pilihan-pilihan yang bisa jadi salah. Karena pilihannya untuk menebus rasa bersalah, Herakles melakukan Dua Belas Tugas yang tak mungkin terselesaikan manusia biasa—yang sesungguhnya adalah rencana jahat Hera untuk menghancurkan putra tirinya. Karena kehendaknya sendiri, Ia membebaskan mereka yang tersisihkan oleh takdir para dewa. Ketika Ia membangun pilar untuk menopang langit, misalnya, menggantikan peran Atlas, titan tua yang lelah memanggul beban di bahunya sebagai hukuman hanya karena berperang di pihak yang kalah. Seringkali yang Ia anggap kewajiban sesungguhnya bukan sesuatu yang siapapun inginkan. Seringkali Ia menyelamatkan mereka yang tak meminta diselamatkan, yang bukan berterima kasih, malah mengutuk laku penyelamatannya. Seringkali Ia salah. Tapi salah adalah fitrah manusia, dan Herakles sendiri yang memilih fitrahnya.

Laku heroik yang terlihat bodoh dan tak diminta siapa-siapa. Kisah Herakles mengingatkan juga: kata, pemberian, pertolongan, tindak, laku, dan karya manusia kadang bukan hadir karena diminta, melainkan karena kebutuhan pengucap/pemberi/pelaku/penciptanya. Kebutuhan, yang memperlihatkan betapa rapuhnya manusia: yang harus terus bergerak dan berbuat untuk yakin bahwa dirinya ada, punya peran di dunia, punya makna.


Herakles menyambut semua takdirnya, dan bisa jadi, penerimaannya menyebabkan Ia dikenang dalam nyanyian dan cerita. Kita bukan Herakles, putra raja para dewa, yang ditawarkan dua pilihan. Dan siapa dari kita yang masih punya mimpi sedemikian besar untuk menjadi pahlawan dan dikenang dalam legenda? Tapi siapapun kita, kita bisa sadari sedari mula: surga tak pernah ada di depan mata. Perjalanan itu jauh, dan satu-satunya cara menempuhnya—dan mungkin akhirnya mencapainya—adalah dengan melangkah: berlaku, belajar, menyambut dan menerima kerapuhan dalam berbagai bentuk dan cara, dan membuat pilihan-pilihan tak mudah yang seringkali salah.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief