Malam mendekat, tetapi kita belum juga sampai di rumah dengan selamat. Sedikit cahaya yang tersisa pada waktu-waktu inilah yang bisa membimbing kita semua.

Muda

Matahari terbenam bersamaan dengan langkahmu pulang melewati baliho-baliho penuh wajah gendut, slogan, dan janji-janji—bagaimana mungkin kau peduli pada orang-orang asing ini? Lagipula, masihkah kita punya harapan pada demokrasi? Sekali lagi, satu hari insignifikan berlalu, tercatat hanya dalam twit mengeluhkan pembangunan jalan pagi tadi, foto instagram sushi diskonan siang ini… Dan mungkin dalam status path malam nanti (‘good night’)?

Tepian malam adalah medan pertempuran antara ilusi dan anggapanmu akan yang nyata. Seringkali kesadaranmu ingin menyerah saja, seringkali kau biarkan dirimu hanyut dalam nostalgia, seringkali kau ingin halusinasi mengalahkan realita… Tunggu, tapi benarkah yang semua orang lihat/dengar/rasa itu nyata?

Message sent. Baru beberapa menit berselang, jarimu mulai bergerak tak tenang sementara matamu tak henti melirik ke layar hitam. Klak klik klak klik. Di sudut layar, setitik merah berkelip. Terlihat tanda: pesanmu telah dibaca olehNya. Tapi tak ada balasan apa-apa. Kecewa, kau kembali menatap langit malam dari sela jendela dengan mata hampa, mengharap Sang Juruselamat segera tiba, menunggu ayat-ayat difax dari surga, menanti jawaban… Atas apa?

Terhuyung, kau menuju kamar mandi. Kau menatap sosok di dalam cermin: kurus, pucat, dua puluh empat. Apa yang ia sudah perbuat? Diakah bayangan yang ingin kau lihat?

Perutmu bergolak, kepalamu berat, pandanganmu gelap, kau nyaris terjerembab... Jika dua lengan yang sama lemahnya dengan lenganmu tak sigap menangkap.

-


Cahaya menyeruak lewat sela jendela, menampar wajahmu, membangunkanmu, mengingatkanmu untuk bersyukur akan segala yang terjadi semalam dan semua yang masih kau punya, hal-hal yang tak akan selamanya ada: kenangan, pertanyaan, kehausan, teman, kenaifan. Kau tersenyum, menatap langit-langit, menggeliat sejenak, bangkit, mengenakan pakaian, lalu kembali berjalan.

Tidak ada komentar:

Double personality is so 2000. Mobil jemputan warna hijau telor asin Brebes yang hobinya kebut-kebutan di Kalimalang sambil menggeber Joy Division. Kretek, kopi, dan gorengan bersama Derrida di taman kota. Es krim rasa tape dan gulali rasa nangka. Situationist International. Risoles isi daging rusa asap. Lingkar samsara Sisifus. Tanda seru. Selamatkan seni dan desain dari diri mereka sendiri. Petir. Piknik antar peradaban. Fluxus yang tersumbat, gerak yang terhambat. Kembang api. Interupsi. Negasi. Saya percaya pada kekuatan dialog dan pendidikan menengah, inisiasi remaja menuju masyarakat. Narasi besar telah runtuh. Mari nyanyikan epik kita sendiri. Seorang teman berkata, yang bisa menggambarkan saya adalah sebuah wadah yang ke dalamnya terus menerus dilemparkan apa saja oleh siapa saja. Semoga wadah itu tak ada dasarnya, tak akan penuh ataupun tumpah isinya. Semoga wadah itu tetap ada, terus membendung keriuhan di dalamnya. Semoga keriuhan itu tak mereda, dan semoga semua manusia tak berhenti bertanya.

Aidil Akbar Latief
@idlelatief